99 Tips Agar Anak Suka Baca Quran
Penulis: GenioFam, Kategori: Tips/ Panduan/ How to
99 Tips Agar Anak Suka Baca Quran
Klik untuk memperbesar gambar
Terbit: Juni 2010
Tebal: 92 halaman
Harga: Rp. 25.000,00
Deskripsi:
Anak merupakan generasi penerus bangsa. Mereka laksana bibit-bibit tanaman yang pertumbuhannya sangat tergantung pada perilaku petani. Semakin rajin dirawat, semakin baik pula pertumbuhannya. Begitupun sebaliknya. Mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Mengenalkan, mengajarkan dan memahamkan anak pada Al-Qur’an juga menjadi bagian dari tugas mereka. Mengaji adalah langkah awal untuk membentuk kepribadian anak yang soleh dan solehah. Dengan mengaji, berarti mengenal, membaca dan memahami ayat-ayat Allah yang akan menjadi bekal dalam melangkah.
Buku 99 Tips agar Anak Suka Baca Qur’an ini sengaja ditulis untuk membantu Anda dalam mendidik dan mengarahkan anak Anda sehingga mengaji Al-Qur’an bukan lagi sebagai tugas harian, tapi hobi yang mengasyikkan. Kemasannya yang menarik dengan bahasa yang tidak bertele-tele akan mempermudah Anda dalam memahami 99 tips yang kami sajikan. Di antaranya, Anda akan menemukan:
o Tips mendeteksi anak yang malas mengaji.
o Tips menciptakan lingkungan yang menarik untuk belajar mengaji.
o Tips memilihkan tempat belajar mengaji.
o Tips memanfaatkan permainan untuk belajar mengaji.
o Tips memanfaatkan teknologi untuk belajar mengaji.
Wujudkan harapan Anda untuk mempuyai anak yang soleh dan solehah! Buku ini siap menjadi panduan!
Sabtu, 26 Maret 2011
Rabu, 16 Maret 2011
DRWS Maret 2011

Demak Reading Writing Society (DRWS)
powered by hasfriends and LRS chapter demak
Books of this month
Opick Inspirasiku
Curhat Jalan Raya
Mayasmara
TigaBiruSegi
Add a description
Demak Reading Writing Society (DRWS) powered by hasfriends and LRS chapter demak Books of this month
Opick Inspirasiku
Curhat Jalan Raya
Mayasmara
TigaBiruSegi
Minggu, 13 Maret 2011
Review "Negeri 5 Menara"
Pesantren seringkali di pandang sebelah mata. Banyak menyangka kehidupan dan pendidikan di dalamnya katrok alias jadul banget. Ya, itu memang benar jika hanya melihat dari luarnya saja, coba ketika telah masuk ke dalam kehidupan di dalamnya. Pasti akan menemukan aura yang beda dengan kehidupan luar pesantren.
Seperti kisah dalam novel karya Ahmad Fuadi ini, Negeri Lima Menara. Sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulis, yang juga alumni dari Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur, yang terkenal itu. Fuadi bercerita tentang Alif tokoh utama yang berasal dari Maninjau. Bukittinggi, Sumatera Barat, dan kelima teman yang berbeda daerah dengannya. Atang dari Bandung, Raja dari pinggiran Kota Medan, Baso dari Sulawesi, Said dari Surabaya, dan Dul Majid dari Madura. Mereka menjalin persahabatan di sebuah Pondok Pesantren Modern di daerah Ponorogo Jawa Timur yang oleh Fuadi dinamakan Pondok Madani.
Meskipun tidak ada hubungan saudara, mereka yang berasal dari beda tempat bisa menjadi bak saudara yang ada hubungan darah. Itu semua terjalin karena keadaan pondok yang mengkondisikan untuk mandiri dan hidup sederhana. Jadi, memang harus di sadari hidup itu bersosial, tidak bisa hidup sendiri. Dan mereka berenam adalah santri yang selalu bersama, kapan pun dan di mana pun. Dari awal masuk ke pondok, saat pertama kali mendapatkan iqob (hukuman) dari Mudabbir (pengurus), hingga hari-hari di Pondok Madani yang sarat dengan konskwensi hukuman yang bertujuan sebagai pendidikan.
Sampai pada suatu saat mereka mendapatkan tempat berkumpul yang nyaman, santai, serta tak bising jika di gunakan juga sebagai tempat belajar, bisa sambil tidur-tiduran dan terlentang yaitu di bawah menara di depan masjid Pondok Madani yang besar.
Oleh karena mereka sering berkumpul di bawah menara, akhirnya mereka mendapatkan julukan Sahibul Manara (Orang yang punya Menara). Mereka merasakan suka duka di Pondok Madani, kemudian saling mencurhatinya di bawah menara itu, tak hanya itu di bawah menara itu mereka pun menyampaikan mimpi dan cita-cita mereka masing-masing.
Suatu saat Sahibul Menara berkumpul, Alif mengimajinasikan awan-awan yang di atas yang ia lihat adalah awan yang menunjukkan peta Amerika, beda dengan Alif, Raja yang mengimajinasikan awan-awan itu membentuk peta Eropa, Baso dan Atang beda pula mengimajinasikannya,mereka melihat awan-awan itu membentuk peta Asia dan Timur Tengah, sedangkan Said dan Dulmajid tidak menggambarkan imajinasi mereka, mereka hanya menganggap awan-awan itu adalah Indonesia.
Begitulah mimipi-mimpi mereka, namun ternyata tidak mudah menjadi santri yang menuntut ilmu jauh dari orang-orang tercinta dan kampong halaman. Alif misalnya sebagai tokoh utama sekaligus pencerita, harus berusaha sekuat tenaga menahan keinginannya keluar dari pondok Madani, karena memang sejak awal tidak ada niatan untuk masuk Pondok Pesantren. Masuk ke pondok Madani adalah pilihannya ketika ia harus masuk MA (Madrasah Aliyah) setelah lulus dari sekolah agama (MTS) padahal keinginannya adalah masuk SMA, karena ia merasa cukup ilmu agama yang ia dapat, dan sekarang adalah waktunya mencari ilmu dunia, untuk mengejar citanya yaitu ingin menjadi The Next Habibi. Tapi, impian itu harus musnah, ketika Amak dan bapaknya menyuruhnya masuk sekolah agama lagi, akan tetapi ia memilih alternatif lain yaitu merantau jauh ke tanah jawa, tepatnya Ponorogo Jawa Timur, untuk menuntut ilmu. Jadi, intinya ia masuk Pondok Madani karena keterpaksaan.
Ketika tengah-tengah perjalanan hidup di Pondok Madani, Baso harus gugur dahulu. Karena ia harus mengurus neneknya yang tinggal sendiri. Tinggal berlima sahibul menara, di saat itu pula Alif harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri untuk tidak terpengaruh Baso untuk keluar dari Pondok Madani. Dan inilah ujian yang paling besar ketika Alif mendapatkan surat dari sahabat karibnya, Randai yang terlebih dahulu kuliah Universitas terkenal, ia kembali harus menahan diri agar tak berhenti di sini perjuangannya di Pondok Madani ini, karena waktu ia sudah mendekati finish kehidupan di Pondok Madani. Ia kembali menguatkan diri dengan mengingat betul kalimat yang perttama kali di pelajari saat masuk di Pondok Madani Man Jadda Wajada, yang kemudian ia beri nama Mantra Man Jadda Wa Jadda (Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan).
Maka ia pun memutuskan, untuk berjuang di Pondok Madani sampai hari kelulusan. Tekadnya telah bulat, dan akhirnya setelah lulus dari Pondok Madani ia mencapai cita-citanya untuk menginjakkan kaki di bumi Amerika. Begitupun teman-temannya Sahibul Manara pun mendapatkan cita-cita mereka. Selamat membuktikan ampuhnya mantra Man Jadda Wa Jadda.
16.03.10, Desa Reformasi
Judul : Negeri Lima Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : 420 Halaman
Seperti kisah dalam novel karya Ahmad Fuadi ini, Negeri Lima Menara. Sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulis, yang juga alumni dari Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur, yang terkenal itu. Fuadi bercerita tentang Alif tokoh utama yang berasal dari Maninjau. Bukittinggi, Sumatera Barat, dan kelima teman yang berbeda daerah dengannya. Atang dari Bandung, Raja dari pinggiran Kota Medan, Baso dari Sulawesi, Said dari Surabaya, dan Dul Majid dari Madura. Mereka menjalin persahabatan di sebuah Pondok Pesantren Modern di daerah Ponorogo Jawa Timur yang oleh Fuadi dinamakan Pondok Madani.
Meskipun tidak ada hubungan saudara, mereka yang berasal dari beda tempat bisa menjadi bak saudara yang ada hubungan darah. Itu semua terjalin karena keadaan pondok yang mengkondisikan untuk mandiri dan hidup sederhana. Jadi, memang harus di sadari hidup itu bersosial, tidak bisa hidup sendiri. Dan mereka berenam adalah santri yang selalu bersama, kapan pun dan di mana pun. Dari awal masuk ke pondok, saat pertama kali mendapatkan iqob (hukuman) dari Mudabbir (pengurus), hingga hari-hari di Pondok Madani yang sarat dengan konskwensi hukuman yang bertujuan sebagai pendidikan.
Sampai pada suatu saat mereka mendapatkan tempat berkumpul yang nyaman, santai, serta tak bising jika di gunakan juga sebagai tempat belajar, bisa sambil tidur-tiduran dan terlentang yaitu di bawah menara di depan masjid Pondok Madani yang besar.
Oleh karena mereka sering berkumpul di bawah menara, akhirnya mereka mendapatkan julukan Sahibul Manara (Orang yang punya Menara). Mereka merasakan suka duka di Pondok Madani, kemudian saling mencurhatinya di bawah menara itu, tak hanya itu di bawah menara itu mereka pun menyampaikan mimpi dan cita-cita mereka masing-masing.
Suatu saat Sahibul Menara berkumpul, Alif mengimajinasikan awan-awan yang di atas yang ia lihat adalah awan yang menunjukkan peta Amerika, beda dengan Alif, Raja yang mengimajinasikan awan-awan itu membentuk peta Eropa, Baso dan Atang beda pula mengimajinasikannya,mereka melihat awan-awan itu membentuk peta Asia dan Timur Tengah, sedangkan Said dan Dulmajid tidak menggambarkan imajinasi mereka, mereka hanya menganggap awan-awan itu adalah Indonesia.
Begitulah mimipi-mimpi mereka, namun ternyata tidak mudah menjadi santri yang menuntut ilmu jauh dari orang-orang tercinta dan kampong halaman. Alif misalnya sebagai tokoh utama sekaligus pencerita, harus berusaha sekuat tenaga menahan keinginannya keluar dari pondok Madani, karena memang sejak awal tidak ada niatan untuk masuk Pondok Pesantren. Masuk ke pondok Madani adalah pilihannya ketika ia harus masuk MA (Madrasah Aliyah) setelah lulus dari sekolah agama (MTS) padahal keinginannya adalah masuk SMA, karena ia merasa cukup ilmu agama yang ia dapat, dan sekarang adalah waktunya mencari ilmu dunia, untuk mengejar citanya yaitu ingin menjadi The Next Habibi. Tapi, impian itu harus musnah, ketika Amak dan bapaknya menyuruhnya masuk sekolah agama lagi, akan tetapi ia memilih alternatif lain yaitu merantau jauh ke tanah jawa, tepatnya Ponorogo Jawa Timur, untuk menuntut ilmu. Jadi, intinya ia masuk Pondok Madani karena keterpaksaan.
Ketika tengah-tengah perjalanan hidup di Pondok Madani, Baso harus gugur dahulu. Karena ia harus mengurus neneknya yang tinggal sendiri. Tinggal berlima sahibul menara, di saat itu pula Alif harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri untuk tidak terpengaruh Baso untuk keluar dari Pondok Madani. Dan inilah ujian yang paling besar ketika Alif mendapatkan surat dari sahabat karibnya, Randai yang terlebih dahulu kuliah Universitas terkenal, ia kembali harus menahan diri agar tak berhenti di sini perjuangannya di Pondok Madani ini, karena waktu ia sudah mendekati finish kehidupan di Pondok Madani. Ia kembali menguatkan diri dengan mengingat betul kalimat yang perttama kali di pelajari saat masuk di Pondok Madani Man Jadda Wajada, yang kemudian ia beri nama Mantra Man Jadda Wa Jadda (Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan).
Maka ia pun memutuskan, untuk berjuang di Pondok Madani sampai hari kelulusan. Tekadnya telah bulat, dan akhirnya setelah lulus dari Pondok Madani ia mencapai cita-citanya untuk menginjakkan kaki di bumi Amerika. Begitupun teman-temannya Sahibul Manara pun mendapatkan cita-cita mereka. Selamat membuktikan ampuhnya mantra Man Jadda Wa Jadda.
16.03.10, Desa Reformasi
Judul : Negeri Lima Menara
Penulis : Ahmad Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : 420 Halaman
Label:
Negeri 5 Menara,
Reading Writing Society,
review
Review "Ramayana"
[Review buku] Ramayana-Mahabarata
by Rahman ElFath on Saturday, January 29, 2011 at 11:50am
Ramayana.
Kisah terpopuler sepanjang masa ini, dimulai di sebuah kerajaan bernama Kosala dan beribukota di Ayodya.
Negeri ini dianugerahi seorang raja yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya pun mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran di segala bidang.
Walaupun telah mampu memimpin dan memberikan kemakmuran di Kosala, raja yang bernama Dasarata merasa hidupnya sangat menyedihkan. Ketiadaan seorang anak laki-laki sebagai pewaris kerajaan menjadi buah pikiran sang Raja selama bertahun-tahun. Ternyata dari cerita tersebut itulah, sejarah Rama, Laksmana, dan Sinta berawal.
Rasanya semua orang pasti mengetahui tentang cerita Ramayana. Ketika isteri Rama, Sita (nama yg populer sih sinta), diculik oleh raksasa berkepala sepuluh bernama Rahwana. Raja diantara raksasa-raksasa di negeri Alengka.
Namun saya jadi mengetahui lebih banyak detail cerita Ramayana ini setelah membaca buku terbitan Bentang yang berisi dua cerita:yaitu Ramayana dan Mahabarata.Bagaimana sejarah kelahiran Rama, bagaimana sikap Rama terhadap masyarakat, dll. Saya baru tahu kalau Rama memiliki beberapa Ibu. Saya baru tahu kalau Laksmana itu ternyata bukan saudara Kandung Rama, dan saya baru tahu kalau Rama itu Inkarnasi dari Wisnu.Sebelumnya juga dikisahkan bagaimana pertemuan Rama dan Sita, sehingga keduanya jatuh cinta.
Buku yang ditulis RK. Narayan ini ternyata adalah rangkuman cerita dari berbagai versi Ramayana yang sangat populer di India. Epik Ramayana ini sesungguhnya ditulis oleh Valmikki (baca: walmikki) dalam bahasa Sansekerta-India.
RK. Narayan mengumpulkan materi cerita dari berbagai sumber. Namun yang utamanya adalah epik yang ditulis pada abad ke 11 masehi dalam bahasa Tamil dari versi penyair bernama Kamban.
Cerita jadi menarik saat Rama hendak dinobatkan menjadi Raja di Ayodya. Setelah semua persiapan penobatan telah matang. Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat segalanya berubah. Saat inilah konflik cerita dimulai. Inti masalah timbul akibat ulah teman sepermainan Rama sendiri-Kuni. Tetapi Rama menyadari hal itu karena salah dia sendiri, pernah membuat Kuni terluka walaupun hanya bercanda. Karena Kuni, ibu tirinya Kekayi menagih janji kepada Raja yang dulu pernah memberikan janji karena Kekayi-Isteri termuda raja-pernah menolongnya.
Meski hanya bergurau, jangan pernah sekalipun kita menyakiti dan melukai perasaan siapa saja, bahkan kepada orang yang paling rendah derajatnya.
Hanya 2 permohonan, tetapi hal tersebut sangat mustahil dapat dipenuhi oleh sang Raja. Mengusir Rama ke hutan selama 14 tahun dan mengangkat Barata (anak kandung Kekayi) sebagai Raja, menggantikan Rama. Seluruh rakyat mengutuk perbuatan-permintaan yang di ajukan Kekayi. Bahkan Barata yang pada waktu itu berkunjung ke rumah kakeknya dan tak tahu apa2, menjadi seorang yang tertuduh ikut mengambil singgasana yang akan diduduki Rama. Padahal Barata sangat menghormati dan menyayangi kakaknya Rama.
Saat menjalani pengasingan di Hutan selama 14 tahun bersama Sita dan Laksmana, mereka bertemu seorang perempuan Cantik, wujud dari seorang wanita raksasa yg kejam adik dari Rahwana bernama Sarpakenaka. Karena dia lah Rahwana menculik Sita.
Karena menculik Sita bukan perkara yang mudah, akhirnya Rahwana meminta bantuan pamannya-Marica untuk menyerupai Kijang yang menggoda Sita. Karena tertarik Sita memohon kepada suaminya-Rama, untuk menangkap kijang tersebut. Pada saat itulah Sita diculik Rahwana.
Dalam pencarian dan mengambil Sita kembali dari tangan Rahwana, Rama dibantu oleh sosok-sosok makhluk yg mempunyai kekuatan dan kemampuan luar biasa seperti Hanuman (seekor Kera), jatayu (Garuda) dll.
Setelah mendapatkan Sita dan menduduki singgsananya kembali,ternyata cerita Ramayana ini ternyata belum berakhir. Namun buku ini hanya mengungkap sampai disini saja, karena telah dijelaskan penulis hanya cerita inilah yang begitu populer.
Karena ini adalah buku terjemahan, jadi beberapa kalimat harus dibaca berulang-ulang agar tidak bingung dengan isi ceritanya.
Sementara ini saja reviewnya. Mau tahu lebih lengkap silakan baca sendiri saja. Kalau Mahabarata nya mirip dengan cerita The Palace of Illutions-C.B.Divakaruni yang sudah saya review beberapa waktu lalu. Setelah membaca ini saya akhirnya dapat pengetahuan tentang sejarah/legenda yang ada didunia.
Judul Buku : Ramayana-Mahabarata
Penulis : R.K. Narayan
Penerbit : Bentang
No ISBN : 978-979-1227-54-5
by Rahman ElFath on Saturday, January 29, 2011 at 11:50am
Ramayana.
Kisah terpopuler sepanjang masa ini, dimulai di sebuah kerajaan bernama Kosala dan beribukota di Ayodya.
Negeri ini dianugerahi seorang raja yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya pun mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran di segala bidang.
Walaupun telah mampu memimpin dan memberikan kemakmuran di Kosala, raja yang bernama Dasarata merasa hidupnya sangat menyedihkan. Ketiadaan seorang anak laki-laki sebagai pewaris kerajaan menjadi buah pikiran sang Raja selama bertahun-tahun. Ternyata dari cerita tersebut itulah, sejarah Rama, Laksmana, dan Sinta berawal.
Rasanya semua orang pasti mengetahui tentang cerita Ramayana. Ketika isteri Rama, Sita (nama yg populer sih sinta), diculik oleh raksasa berkepala sepuluh bernama Rahwana. Raja diantara raksasa-raksasa di negeri Alengka.
Namun saya jadi mengetahui lebih banyak detail cerita Ramayana ini setelah membaca buku terbitan Bentang yang berisi dua cerita:yaitu Ramayana dan Mahabarata.Bagaimana sejarah kelahiran Rama, bagaimana sikap Rama terhadap masyarakat, dll. Saya baru tahu kalau Rama memiliki beberapa Ibu. Saya baru tahu kalau Laksmana itu ternyata bukan saudara Kandung Rama, dan saya baru tahu kalau Rama itu Inkarnasi dari Wisnu.Sebelumnya juga dikisahkan bagaimana pertemuan Rama dan Sita, sehingga keduanya jatuh cinta.
Buku yang ditulis RK. Narayan ini ternyata adalah rangkuman cerita dari berbagai versi Ramayana yang sangat populer di India. Epik Ramayana ini sesungguhnya ditulis oleh Valmikki (baca: walmikki) dalam bahasa Sansekerta-India.
RK. Narayan mengumpulkan materi cerita dari berbagai sumber. Namun yang utamanya adalah epik yang ditulis pada abad ke 11 masehi dalam bahasa Tamil dari versi penyair bernama Kamban.
Cerita jadi menarik saat Rama hendak dinobatkan menjadi Raja di Ayodya. Setelah semua persiapan penobatan telah matang. Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat segalanya berubah. Saat inilah konflik cerita dimulai. Inti masalah timbul akibat ulah teman sepermainan Rama sendiri-Kuni. Tetapi Rama menyadari hal itu karena salah dia sendiri, pernah membuat Kuni terluka walaupun hanya bercanda. Karena Kuni, ibu tirinya Kekayi menagih janji kepada Raja yang dulu pernah memberikan janji karena Kekayi-Isteri termuda raja-pernah menolongnya.
Meski hanya bergurau, jangan pernah sekalipun kita menyakiti dan melukai perasaan siapa saja, bahkan kepada orang yang paling rendah derajatnya.
Hanya 2 permohonan, tetapi hal tersebut sangat mustahil dapat dipenuhi oleh sang Raja. Mengusir Rama ke hutan selama 14 tahun dan mengangkat Barata (anak kandung Kekayi) sebagai Raja, menggantikan Rama. Seluruh rakyat mengutuk perbuatan-permintaan yang di ajukan Kekayi. Bahkan Barata yang pada waktu itu berkunjung ke rumah kakeknya dan tak tahu apa2, menjadi seorang yang tertuduh ikut mengambil singgasana yang akan diduduki Rama. Padahal Barata sangat menghormati dan menyayangi kakaknya Rama.
Saat menjalani pengasingan di Hutan selama 14 tahun bersama Sita dan Laksmana, mereka bertemu seorang perempuan Cantik, wujud dari seorang wanita raksasa yg kejam adik dari Rahwana bernama Sarpakenaka. Karena dia lah Rahwana menculik Sita.
Karena menculik Sita bukan perkara yang mudah, akhirnya Rahwana meminta bantuan pamannya-Marica untuk menyerupai Kijang yang menggoda Sita. Karena tertarik Sita memohon kepada suaminya-Rama, untuk menangkap kijang tersebut. Pada saat itulah Sita diculik Rahwana.
Dalam pencarian dan mengambil Sita kembali dari tangan Rahwana, Rama dibantu oleh sosok-sosok makhluk yg mempunyai kekuatan dan kemampuan luar biasa seperti Hanuman (seekor Kera), jatayu (Garuda) dll.
Setelah mendapatkan Sita dan menduduki singgsananya kembali,ternyata cerita Ramayana ini ternyata belum berakhir. Namun buku ini hanya mengungkap sampai disini saja, karena telah dijelaskan penulis hanya cerita inilah yang begitu populer.
Karena ini adalah buku terjemahan, jadi beberapa kalimat harus dibaca berulang-ulang agar tidak bingung dengan isi ceritanya.
Sementara ini saja reviewnya. Mau tahu lebih lengkap silakan baca sendiri saja. Kalau Mahabarata nya mirip dengan cerita The Palace of Illutions-C.B.Divakaruni yang sudah saya review beberapa waktu lalu. Setelah membaca ini saya akhirnya dapat pengetahuan tentang sejarah/legenda yang ada didunia.
Judul Buku : Ramayana-Mahabarata
Penulis : R.K. Narayan
Penerbit : Bentang
No ISBN : 978-979-1227-54-5
review merapi gugat
Apa kata mereka tentang Buku "MERAPI GUGAT", Antologi puisi etnik 13 Penyair
by Rini Intama on Wednesday, January 5, 2011 at 1:21pm
KOMENTAR PENGAMAT DAN KRITIKUS SASTRA TENTANG BUKU INI:
Professor Harry Aveling, PhD DCA, Indonesianis, Pengamat Sastra Indonesia, di Sydney:
"Walaupun bahasa tidak bisa dipakai untuk menguasai alam raya ciptaan Yang Mahakuasa, manusia memang harus memakai bahasa dalam percobaannya untuk memahami dan merespon pada pengalamannya dalam dunia yang tetap bergolak. Letupan Gunung Merapi selama beberapa minggu tahun 2010 sangat mengerikan, namun demikian perasaan persaudaran yang timbul di masyarakat seIndonesia juga sangat jelas dan mengharukan. Dalam buku ini yang tertulis oleh 13 penyair dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, dibuktikan, 'Kita adalah Merapi'."
Maman S Mahayana, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul:
"Puisi adalah potret zaman. Ia tak sekadar representasi gebalau rasa yang paling individual tentang sikap, empati—simpati, atau bahkan antipati, tetapi juga sebagai pewarta peristiwa kemanusiaan. Selalu, tragedi kemanusiaan di belahan dunia mana pun akan menyedot rasa bela sungkawa. Lalu kepedulian pun berdatangan dalam berbagai bentuk ekspresinya. Antologi puisi ini—dengan segala sentuhan etnisitasnya—, telah menjadi saksi bicara, betapa suara penyair tiada pernah berhenti mengalirkan semangat hendak berbagi. Itulah tanggung jawab penyair sebagai makhluk manusia. Di situlah puisi menjadi suara kemanusiaan zamannya."
Cunong N. Suraja, pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor:
"Tigabelas penyair menggugat Merapi. Merapi yang memberkahi tigabelas penyair yang cukup jam terbangnya. Tak heran jika mereka menangkap makna Merapi dalam warna lokal yang kental serta kearifan budaya yang tandas dengan bonus catatan kaki bahasa daerah. Nama Sutirman Eka Ardhana, Kurniawan Junaedhie, Boedi Ismanto dan Susy Ayu untuk menyebut nama penyair dengan dapur magma yang mampu melawan kebringasan Merapi yang terasa lebih dahsyat dari tahun-tahun masa kecil saya. Sungguh buku kumpulan yang mewakili perhelatan Merapi di era Facebook yang ceria dan merdeka."
Hudan Hidayat, Sastrawan, dan Pengamat sastra, di Jakarta:
“.…seperti ke-13 rekan penyair ini, membuatkan semacam tugu peringatan akan kejadian alam – meletusnya gunung merapi. Seolah kini sastra itu menunjukkan dirinya, bahwa dia bukanlah semata bahasa yang dipakai untuk sekedar semata kesenangan diri. Tapi bahasa yang melibatkan juga kepada soal soal di masyarakat….”
Suminto A Sayoeti, Guru Besar FBS UNY, Yogyakarta:
"Dalam puisi , para penyair merumahkan pengalaman-pengalaman kemanusiaannya. maka, bahasa puisi pun tidak semata informatif, tetapi bahkan evokatif: mampu menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Puisi yang dihimpun dalam antologi ini, untuk sekian kalinya, membuktikan hal itu. tidak hanya pewartaan yg dikapsulkan dalam jagat puitik pilihan para penyair, tetapi juga refleksi-refleksi sublim agar kita tetap menjadi manusia."
Faruk HT, kritikus sastra dan staf pengajar di Fak. Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta:
"Kumpulan puisi ini menjadi salah satu representasi penting dari pemaknaan orang Jawa atau orang Indonesia yang ikut bersentuhan dengan Merapi mengenai pergeseran pemaknaan mengenai gunung tersebut. Ada yang melihat gunung sekedar representasi dari Tuhan, sebuah gagasan yang sama sekali tidak ada dalam Astabrata, ada yang memahami gunung bukan sebagai kekuasaan, melainkan justru hamba atau kaula yang “menggugat” seperti yang tercantum bahkan pada judul buku ini, ada juga yang melihat gunung sebagai kekuatan yang menakutkan, “kejam”, menimbulkan penderitaan."
13 Penyair :
by Rini Intama on Wednesday, January 5, 2011 at 1:21pm
KOMENTAR PENGAMAT DAN KRITIKUS SASTRA TENTANG BUKU INI:
Professor Harry Aveling, PhD DCA, Indonesianis, Pengamat Sastra Indonesia, di Sydney:
"Walaupun bahasa tidak bisa dipakai untuk menguasai alam raya ciptaan Yang Mahakuasa, manusia memang harus memakai bahasa dalam percobaannya untuk memahami dan merespon pada pengalamannya dalam dunia yang tetap bergolak. Letupan Gunung Merapi selama beberapa minggu tahun 2010 sangat mengerikan, namun demikian perasaan persaudaran yang timbul di masyarakat seIndonesia juga sangat jelas dan mengharukan. Dalam buku ini yang tertulis oleh 13 penyair dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, dibuktikan, 'Kita adalah Merapi'."
Maman S Mahayana, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul:
"Puisi adalah potret zaman. Ia tak sekadar representasi gebalau rasa yang paling individual tentang sikap, empati—simpati, atau bahkan antipati, tetapi juga sebagai pewarta peristiwa kemanusiaan. Selalu, tragedi kemanusiaan di belahan dunia mana pun akan menyedot rasa bela sungkawa. Lalu kepedulian pun berdatangan dalam berbagai bentuk ekspresinya. Antologi puisi ini—dengan segala sentuhan etnisitasnya—, telah menjadi saksi bicara, betapa suara penyair tiada pernah berhenti mengalirkan semangat hendak berbagi. Itulah tanggung jawab penyair sebagai makhluk manusia. Di situlah puisi menjadi suara kemanusiaan zamannya."
Cunong N. Suraja, pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor:
"Tigabelas penyair menggugat Merapi. Merapi yang memberkahi tigabelas penyair yang cukup jam terbangnya. Tak heran jika mereka menangkap makna Merapi dalam warna lokal yang kental serta kearifan budaya yang tandas dengan bonus catatan kaki bahasa daerah. Nama Sutirman Eka Ardhana, Kurniawan Junaedhie, Boedi Ismanto dan Susy Ayu untuk menyebut nama penyair dengan dapur magma yang mampu melawan kebringasan Merapi yang terasa lebih dahsyat dari tahun-tahun masa kecil saya. Sungguh buku kumpulan yang mewakili perhelatan Merapi di era Facebook yang ceria dan merdeka."
Hudan Hidayat, Sastrawan, dan Pengamat sastra, di Jakarta:
“.…seperti ke-13 rekan penyair ini, membuatkan semacam tugu peringatan akan kejadian alam – meletusnya gunung merapi. Seolah kini sastra itu menunjukkan dirinya, bahwa dia bukanlah semata bahasa yang dipakai untuk sekedar semata kesenangan diri. Tapi bahasa yang melibatkan juga kepada soal soal di masyarakat….”
Suminto A Sayoeti, Guru Besar FBS UNY, Yogyakarta:
"Dalam puisi , para penyair merumahkan pengalaman-pengalaman kemanusiaannya. maka, bahasa puisi pun tidak semata informatif, tetapi bahkan evokatif: mampu menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Puisi yang dihimpun dalam antologi ini, untuk sekian kalinya, membuktikan hal itu. tidak hanya pewartaan yg dikapsulkan dalam jagat puitik pilihan para penyair, tetapi juga refleksi-refleksi sublim agar kita tetap menjadi manusia."
Faruk HT, kritikus sastra dan staf pengajar di Fak. Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta:
"Kumpulan puisi ini menjadi salah satu representasi penting dari pemaknaan orang Jawa atau orang Indonesia yang ikut bersentuhan dengan Merapi mengenai pergeseran pemaknaan mengenai gunung tersebut. Ada yang melihat gunung sekedar representasi dari Tuhan, sebuah gagasan yang sama sekali tidak ada dalam Astabrata, ada yang memahami gunung bukan sebagai kekuasaan, melainkan justru hamba atau kaula yang “menggugat” seperti yang tercantum bahkan pada judul buku ini, ada juga yang melihat gunung sebagai kekuatan yang menakutkan, “kejam”, menimbulkan penderitaan."
13 Penyair :
Reading Writing Society

Membaca
tak mudah untuk membaca dengan baik
demikian juga dengan menulis
namun dengan berlatih dan berbagi, insya Allah akan mudah.
Tak banyak orang yang mau membaca
kiranya karena tak tahu betapa pentingnya membaca
dan juga menulis itu
Reading Writing Society hadir untuk tujuan ini.
bersama membaca dan menulis menuju masa depan yang gemilang.
Yuk Mareeee...:)
Langganan:
Postingan (Atom)