Ikuti event foto komen
novel lelaki :kutunggu lelakumu
atau novel segitiga :setiap sudutnya punya cerita
atau buku petitah.
Caranya : upload posemu beserta buku, atau foto bukunya,sertakan komenmu. Tag teman teman dan hasfa publisher.
Bagi yang upload di blog, beritahukan linknya ke inbox fb atau email hasfapublishing@yahoo.com.
Bagi yang upload di twitter, mention @hasfapublishing.
Deadline sesi ke 2 foto komen :10 oktober 2012
Hadiah total senilai 1,5jt untuk 5 orang terpilih (@Paket buku senilai 300rb)
Dapatkan buku -buku tsb di toko buku Gramedia.
Rabu, 12 September 2012
Even Foto Komen
Label:
even,
foto komen,
hasfa publishing,
lelakikutunggulelakumu,
novel,
petitah,
segitiga
Senin, 13 Agustus 2012
Resensi Buku PETITAH
Resensi
Buku_Petitah
oleh An
Maharani Bluepen*
Judul
: PETITAH:
Perjalanan Menuju Awal
Jenis
buku : Religi
Penulis
: Agus Faizal
Penerbit
: Hasfa Publishing
Tahun
: 2012
Dalam
setahun, Alloh Menyisipkan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh cinta dan
kebaikan. Pesonanya tak akan pernah pudar bagi orang-orang beriman. Bahkan,
semangat Ramadhan senantiasa terpatri dalam sebelas bulan berikutnya.
Perjalanan mengisi Ramadhan dengan penuh kecintaan merupakan salah satu kunci
untuk meraih ketakwaan di hadapan-Nya.
Petitah
sebagai hantaran baru dari Agus Faizal, memberikan deskripsi perjalanan cinta
di bulan suci. Dengan aneka majas dan tata bahasa campuran, penulis mampu
mengajak emosional pembaca serta mengobservasi fenomena Ramadhan yang sering
terjadi. Di balik deretan kisah tiga puluh hari meraih cinta-Nya, terdapat sisi
hikmah yang manis. Ada sisi renungan, atau sedikit guyonan segar yang disajikan penulis.
Tak hanya itu, setiap cerita memiliki buah harapan dan doa yang menyalurkan
energi semangat tanpa jeda. Sudut mengenai perbedaan persepsi dikemas dengan
bahasa lugas meski tak beraturan.
Buku
ini juga mengisyaratkan bahwa Ramadhan bukanlah terminal akhir dalam menuju
ketakwaan melainkan perjalanan awal untuk membentuk pribadi hasil metamorfosis
Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah pemahaman pada seluruh bagian jiwa raga
kehidupan, personal, dan sosial di ruang dan waktu. Semakin merayapinya,
semakin menjadi sebuah inspirasi. Di sini, kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan
tak mudah terlepas meski Ramadhan telah berakhir.
Dari
mana seorang insan bisa memulai perjalanan meraih cinta-Nya? Alangkah baiknya
jika Anda sendiri memahami buku ini sampai tuntas. Buku yang berisi tak sekedar
prosa picisan melainkan catatan kecil yang bisa menjadi inspirasi tiap orang
untuk menghargai waktu Ramadhan. Buku petitah hadir di toko buku Gramedia dan
toko buku lainnya. Untuk pemesanan, bisa hubungi penerbit langsung di:
081914032201. Ok. Semangat membaca buku tanpa henti :D
"Waktu
tak pernah siuman,kecuali disadarkan adalah kenisbian yang mengada..."
-Hantaran
# 3 Petitah-
Sabtu, 11 Agustus 2012
Three Musketers
THREE MUSKETERS
By Fidianna
Tiga tahun ini kami
bertiga melalui hari-hari tanpa suami dan ayah.
Berat? Tidak juga
sebenarnya. Mungkin sebenarnya berat tapi aku dan anak-anakku melaluinya dengan
hati lapang. Mereka berdua, Hasan dan Fatimah yang berusia enam dan empat tahun
can entertain themselves, sama
mudahnya dengan diriku. Hidup dibawa enjoy dan have fun.
Kantor konsultan
arsitek dan kontraktor yang dulu kurintis dengan almarhum suami terpaksa
kutinggalkan karena aku dan kedua anakku ditarik pulang ke rumah ibu. Sejak
itulah perjalanan terasa agak berat. Tinggal di kota kecil, tidak memungkinkan
karir arsitekku berkembang.
Dua tahun pertama aku
memaksakan diri untuk tetap berkutat di bidangku, membuka lahan property baru
di Semarang bersama kawan dan tim. Waktuku tersita banyak di perjalanan dan
juga pekerjaan. Kadang –kadang jika sedang tidak punya pembantu, aku terpaksa
menitipkan mereka ke rumah bulikku, karena ibuku sendiri juga masih aktif
bekerja sebagai PNS. Beliau berangkat pagi-pagi sekali sekitar jam enam dan
pulang jam enam sore karena kantornya berada di luar kota.
Kasihan sekali
anak-anakku. Bahkan waktu kami masih tinggal di Semarang, kami bertiga seperti
three musketeers karena selalu bepergian bertiga sejak ayah mereka wafat dalam
kecelakaan lalu lintas. Tapi sejak
tinggal di Demak dan aku harus nglajo kerja ke Semarang, tak pernah lagi kami
punya waktu jalan-jalan. Lama kelamaan, aku berpikir jika aku terus memaksa
untuk nglajo ke Semarang, kasihan anak-anakku yang hanya mendapatiku pulang
dalam keadaan letih dan karenanya mudah marah.
Akhirnya kuputuskan
resign dan mengisi kekosongan waktu dengan menulis. Hobi lamaku yang tumbuh
kembali dan akhirnya malah merajai hari-hariku.
Mencintai buku sejak
masih balita-sebab ayahku selalu membawakan banyak buku dan bacaan ke rumah- ternyata
tak pernah pupus. Menulis diary seperti yang diajarkan ayahku sejak aku duduk
di kelas 1 SD- ternyata menjadi ajang pembelajaranku untuk menulis hal-hal lainnya
di kemudian hari. Bakat menulisku ini ditemukan pertamakalinya oleh guru
bahasaku di SD, beliau mendorongku untuk mengikuti berbagai lomba resensi dan
lomba menulis. Guru Bahasaku di SMP dan SMA juga demikian. Hanya saja karena salah kaprah pada masa itu,
hanya perkuliahan eksakta saja yang dianggap keren, kemudian aku memilih teknik
arsitektur sebagai pilihan studiku. Yang aneh tapi nyata, aku kadang membawa
sekeranjang buku-buku bacaanku (diluar bacaan arsitektur) ke kampus seperti
perpustakaan keliling. Aku juga gemar sekali datang ke pameran dan bazaar buku
serta menghabiskan banyak rupiah di sana.
Dan ternyata takdir berbicara, Pertama kali memenangkan
lomba menulis pada event ulang tahun sebuah penerbit. Buku Titik Balik yang
keren dan inspiratif menempatkanku di peringkat dua. Menang lagi saat menulis
slogan untuk imprint penerbit bagi pembaca kalangan remaja. Ketika menang
kembali untuk audisi penulis Crazmo, adik laki-lakiku menantangku.
“Ayo,mbak. Ikut lomba
lagi. Yang ketiga menang lagi supaya bisa triple”, selorohnya dengan tertawa
khasnya. Seperti tertantang, aku jadi semakin tak pernah melewatkan event dan
lomba.
Dan Alhamdulillah, buku
Setan 911 bahkan menempatkan namaku di cover depannya. Adik iparku kini yang
berseloroh, “DianNafi siapa tuh? Arsitek nyasar ke sastra”. Begitulah. Dan aku
menerimanya dengan senang hati. Apalagi kemudian kuketahui melalui facebook,
ada beberapa arsitek juga yang suka menulis note, cerpen dan juga puisi. Aku
tidak sendirian.
Beberapa kali
memenangkan lomba menulis, tak terasa aku sudah memiliki 17 buku antologi. Alhamdulillah
wa syukurillah. Sebuah pencapaian-bahkan bukan di bidangku sesungguhnya- yang
sangat mengejutkan bagiku dan teman serta saudaraku.
Menulis ternyata tak
hanya menjadi sarana exhausting atau
pelepasan karena mengeluarkan rasa, duka
dan juga luka. Namun juga membangkitkan energi positif yang tidak hanya
membangun dan mengembangkan diri, namun juga menginpirasi orang lain bahkan
banyak orang.
Ketika kemudian aku
mendapat karuniaNya dengan sebuah kesempatan menulis novel dengan seorang
sahabat maya, sebuah cita-cita lama kembali muncul. Semenjak SMP sampai dengan
lulus kuliah, aku selalu ingin punya toko buku. Sederhana saja alasannya, karena dengan memiliki toko buku, aku bisa
membaca buku dengan gratis. Cita-citaku ini belakangan bergeser dari sekedar
ingin memiliki toko buku menjadi ingin mewujud sebagai penerbit. Utamanya
adalah menerbitkan karya-karya sendiri. Jika kemudian, ada banyak karya penulis
lain yang kami terbitkan, itu semata-mata anugerah dan karuniaNya.
Aku
mengerjakan semuanya dari rumah sambil
bermain bersama anak-anakku. Hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Meski
kemudian dengan beban baru ini aku menjadi semakin sibuk, tetapi aku lega
karena masih bisa berkarya tanpa harus jauh meninggalkan rumah. Mereka juga
semakin faham jika aku harus berbagi waktu dan perhatian agar tugas menjadi ibu
dan juga ‘ayah’ yang mencari nafkah ini harus berjalan seimbang. Bahkan mereka
juga membuat buku mereka sendiri karena mungkin terinspirasi dari aktifitas
yang aku lakukan setengah tahun belakangan ini.
Si sulung membuat
gambar-gambar komik dalam buku tulis kosong yang disertai dialog dan cerita
serta narasi singkat. Dan si bungsu juga membuat gambar sederhana dengan
tulisan huruf-huruf yang ia tahu meski kadang tak terbaca. Terkadang ia meminta
tolong aku atau kakaknya untuk menuliskan kalimat-kalimat yang ia diktekan.
Genitnya, kadang-kadang si bungsu menggodaku,
“Mau ditandatangani
mbak bukunya?”, tanyanya sambil berpura-pura hendak menandatangani bukunya
seolah-olah dia seorang penulis ternama yang bertemu penggemarnya.
Alamaaaak…anakkuuuu…..
Bagian
terbaiknya adalah three musketeers ini
kembali beraksi karena memiliki lebih banyak waktu untuk bersama –sama. We’re
happy and that’s more than everything we need.
Tentang Asma Nadia
SHE’S
MORE THAN I TOUGH
Menyelesaikan
sebuah novel ternyata bukan hal yang mudah. Aku hampir saja menyerah. Ramadlan sudah memasuki sepuluh hari terakhir
dan aku masih termangu –mangu tidak tahu bagaimana kelanjutan novelku.
Tiba-tiba
aku bagai terseret pusaran menakutkan.
“Aku
memang bukan penulis!”, teriakku di kedalaman hati, tapi masih dengan serpihan
ragu. Hatiku memanggil, ini jalanku. Pikiranku yang lain membisikkan ‘kamu kan
arsitek, please deh’.
Oh
, okey. Mungkin aku memang harus istirahat untuk menenangkan kalut batinku yang
bergejolak dan berperang. Tapi aku tetap aku, yang penasaran jika belum segera
menyelesaikan sesuatu yang sudah kumulai. Membuka rak buku dengan maksud
mencari inspirasi di antara deadlock yang menyesakkan dada, aku menemukan
tulisan Asma Nadia di kumpulan cerpennya terbitan Mizan 2001. Wow! Subhanallah.
Kok bisa pas banget? Novelku berkisah tentang kisah cinta di dunia maya dan
kumcer Asma Nadia ini berjudul Dialog Dua Layar.
Bermula
dari membaca cerpen itulah aku kemudian sadar, ternyata ‘she’s more than I
tough’. Dia lebih dari yang kusangka. Kisah persahabatan maya antara Widya
muslimah taat dan Mark yang atheis dalam cerita itu, menyiratkan semangat
toleransi penulisnya yang tinggi. Meskipun pada awalnya kupikir Asma Nadia
berada dalam atau bersama kalangan islam inklusif, ternyata dia berpikiran
lebih luas, tidak menyekat dirinya, terbuka dan toleran. Tokoh Widya yang
akhirnya bersuami, dan tetap menjalin persahabatan dengan Mark, membuka mataku
bahwa tidak ada yang salah dalam persahabatan. Karena aku yang mengaku toleran
saja, seringkali menganggap pertemanan terlalu dekat dengan lawan jenis harus dihindari karena mengkhawatirkan
hal-hal yang tidak diinginkan.
Meski niat awalku mencari inspirasi bagi kelanjutan
novelku belum kuperoleh langsung begitu saja setelah membaca kumcer itu, tapi kurasakan
serapan energi dan serangkaian motivasi inspirasi dalam langkah kehidupanku.
Aku jadi lebih sering melirik Asma Nadia, meski sudah lama menjadi fans
page-nya dan juga ada di friendlist nya.
She’s
more than I tough. Tidak saja
mengobarkan apiku untuk melanjutkan penaku menari-nari, tetapi juga menyiramkan
bensin bagi mimpiku yang baru. Self
publishing. Asma Nadia Publishing House
yang dikembangkannya sendiri menjadi inspirasi bagiku untuk akhirnya mantap
mewujudkan mimpi yang lama terpendam. Kecintaanku pada buku dan keterpaksaan
dalam jepitan ekonomi yang mengharuskanku bergerak maju.
Leutika-lah
sebenarnya yang menemukan (kembali) bakatku
dalam menulis. Karena itu, pada mulanya aku ragu untuk menerbitkan sendiri meskipun aku sudah
memimpikannya sejak lama. Tapi aku belajar dari Asma Nadia, dia merintis ANPH
(Asma Nadia Publishing House) setelah lama bergabung dengan Lingkar Pena
Publishing House (yang kini dipegang Helvy Tiana Rosa-kakaknya yang juga
penulis). Aku membacanya seperti ini, merintis usaha sendiri bukanlah pengkhianatan.
Ini adalah eskalasi, pengembangan.Pernah dengar ini kan? Orang sukses adalah yang
melahirkan dan membantu kelahiran orang-orang sukses baru.
She’s more than I tough. Berasal dari keluarga yang
sangat sederhana, kakak beradik penulis ini kini juga telah melahirkan keluarga
penulis. Subhanallah. Kiprahnya bahkan lintas negara, memantapkan langkahku
untuk melakukan lompatan ini. Menyediakan waktuku lebih banyak untuk menulis
dan menerbitkan buku dibanding aktifitasku sebelumnya sebagai arsitek.
Aneh kan? Iya, pada
mulanya aku ragu juga. Namun cinta..cinta..apa saja untuk cinta. Aku mencintai
dunia baru ini. Semoga berkah, aamiin.
***
“Jadi gimana Fin?”, tanya partner menulisku. Aku sedang
di Gramedia, dan dia di seberang telpon memberikanku beberapa referensi buku
untuk kubaca.
“Hmm…gimana
ya? Aku lebih suka Negeri 5 Menara dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan”, aku
menimbang – nimbang dan akhirnya mengambil pilihan.
“Kamu
sukanya baca yang gitu-gitu sih…”, suaranya kelihatan tidak suka.
Dia
lebih suka aku baca bacaan yang ‘menyerempet bahaya’, dia bilang bagus karena
alurnya tidak linier meskipun aku melihatnya sebagai bacaan yang bisa merusak
otak dan kepribadian.
Aku
jadi teringat Asma Nadia. Dia memang sosok yang patut dicontoh. Dia tidak hanya
menulis tetapi juga berdakwah. Dan istiqomah. Satu hal yang tidak mudah karena
ada banyak bujukan dan pengaruh di luar sana yang bisa menggerus kekokohan
diri. Seringkali keinginan bisa bebas dan bisa diterima semua kalangan akhirnya
menjadikan diri permisif dan kurang filter. Dan Asma Nadia menunjukkan jati
dirinya dengan ‘gentle’ dan anggun. Dan dia tetap eksis bahkan semakin berkibar.
“Kamu
serap cara penulisannya saja yang tidak linier, Fin”, partner menulisku
sepertinya membaca pikiranku.
“Kalau
sudah mahir, kamu bisa menulis apa saja. Dengan misi-misi dakwah juga, tetapi
dengan cara penulisan yang memukau dan tidak biasa. Sehingga ada sesuatu yang
bisa ditawarkan lebih dari penulis lainnya”, sambungnya.
Hmmm…boleh
juga idenya.
Anyway,
kapan-kapan aku akan mencari tulisan Asma Nadia yang tidak linier dan mau
kutunjukkan ke partner menulisku, nih lihat, penulis muslimah juga bisa dengan
muatan yang tetap terjamin mutunya. Aku yakin dia punya.
Karena
she’s more than I tough. Tidak hanya seorang penulis, Asma Nadia telah
menginspirasi banyak orang dengan tulisan dan kiprahnya. Beberapa bukunya
bahkan sudah disadur ke dalam film layar lebar. Prestasi yang luar biasa dan
semakin membuatku membara dalam dunia kepenulisan dan penerbitan.
Selasa, 26 April 2011
Tiga Biru Segi

Puisi sejak riwayatnya yang paling usang adalah dunia tersingkir, dunia tercibir.
Demikian Damhuri Muhammad dalam pengantar buku Luka Mata, buku sajak Hasan Aspahani.
Puisi pula yang telah menjadi medium terluar ketika kedahsyatan menerpa seseorang.
Demikianlah pula ketika bencana alam di tiga sudut bumi nusantara menuliskan puisinya.
Dan mereka, para penulis yang mengirimkan puisinya, telah menuliskannya kembali menjadi untuk, apa yang disebut Dahari sebagai "menghembuskan gairah epistemologi". Jika kini puisi-puisi ini menjadi buku yang terbaca, itu karena puisi telah menjadi kasih karena bencana tak boleh hanya lara sendiri.
Sebagai antologi, keberagaman menjadi dimensi yang menguatkan buku ini yang didedikasikan sepenuhnya untuk bencana yang tak hanya sampai pada simpati. Tetapi ingin menjadi saksi, bahwa puisi menjadi kasih yang nyata dalam kata dan tindakan.
buku "TigaBiruSegi"
Antologi Puisi Kasih – Tanah,Air, Udara
ISBN 978-602-98386-0-2
harga : Rp 30.000, tebal 116 hal, HVS 70 gr, ukuran 13,5x20 cm.
Insya Allah, seluruh profit penjualan buku TBS disumbangkan bagi korban bencana alam.
Label:
hasfa publishing,
hasfriends,
kumpulan puisi,
tigabirusegi
kencantren
“Buku ini merekam kisah-kisah unik romantika cinta dari bilik pesantren, dengan segenap liku-likunya yang khas dan menggelitik. Sangat menarik untuk dibaca!”
~Badiatul Muchlisin Asti
Penulis buku best seller Saat Kuncup Cinta Mekar di Hati
“Buku ini sangat bermanfaat untuk bahan pertimbangan bagi mereka yang akan membangun mahligai rumahtangga yang indah dan sakinah. Juga bagi mereka yang sedang mencari calon pasangan yang sholih(ah) dan terhormat serta terjaga ”
KH. Drs. Dzikron Abdullah
Dosen,Kyai, Ketua Thoriqoh Mu’tabaroh Jawa Tengah
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kedudukannya/ keturunannya, karena kecantikannya dan keranan agamanya. Maka, pilihlah yang baik agamanya niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhori). Dan orang ketiga dibutuhkan agar jangan sampai salah dalam memilih calon pasangan. Kisah-kisah nyata yang diceritakan kembali ini semoga menjadi inspirasi bagi mereka yang mendambakan pasangan sholih
KH. Drs. Ahmad Baidlowi
Kyai ,Pengasuh Pesantren, Dai.
“Buku tersebut ringan dengan bahasa yang renyah tapi berbobot dan yang terpenting isinya menggambarkan keadaan pesantren – pesantren di Jawa,menggelitik tapi tetap menghormati pesantren.”
Ust. Ahmad Rifai .
Pendidik, Dai, Kepala Sekolah SMA di Jakarta.
“ Kisah-kisah nyata yang diceritakan kembali ini semoga menjadi inspirasi dan pencerahan bagi mereka yang mendambakan pasangan sholih/sholihah. Dan membuka pandangan banyak orang mengenai cara – cara yang dianggap kuno namun pada kenyataannya mengandung hikmah yang dalam”
KENCANTREN
Pondok Comblang
ISBN : 978-602-98187-0-3
20cm
86 halaman
Mayasmara
SINOPSIS
Masyasmara, membuktikan bahwa realita hari ini adalah realita media, dan itu jagat maya yang eksistensinya tanpa batas primodial serta menerabas dimensi ruang dan waktu. Batas menjadi nisbi, persepsi menjadi imaji-realiti. Sementara rasa akankah mendapat ruang eksistensinya juga? Padahal rasa itu selama ini telah mendapat posisi yang begitu nyaman dan berkembang sebagai esensi terdalam seseorang.
Adalah Mayana Astari, putri sulung dari tiga bersaudara yang perempuan semua, dari keluarga yang merasa posisi sosialnya sebagai keluarga terhormat. Mayana gadis penurut yang tumbuh dalam kepatuhan kultur Timur yang telah dididik dan bergaul dalam kancah global. Maka Timur dan Barat, Utara dan Selatan menjadi samar eksistensi dan perannya. Sebagai penerus keluarga, entah dia sadar atau tidak, telah menjadi begitu patuh pada hampir semua ketentuan keluarga, sebagai institusi yang agung dan luhur, maka inginnya dipuja-puja sepanjang masa oleh setiap generasinya. Ketetapan keluarga telah menjadi sabda yang tak boleh disanggah. Ketika menjadi dewasa, Mayana pun ditentukan jodohnya oleh keluarga. Tak ada energi berontak sedikitpun. Seolah semua memang begitu adanya. Pematakudaan seluruh pandangan dan aspirasinya, selama ini telah terjadi di keluarga itu berabad silam. Demikian cerita para tetua keluarga, telah diinsulinkan ke dalam benak bawah sadar Mayana.
Ketika menghitung hari menuju pernikahannya, Mayana tersangkut pada pergaulan media sosialita dunia maya, yang sekian bulan ini menjadi bagian kehidupan pribadi dan sosialnya. Subyek yang selama ini berkonektiifitas itu telah memercikan sesuatu yang membuatnya terperangah. Keterperangah itu telah menyengat seluruh eksistensi kemanusia, dan memberi wacana baru yang membuat dirinya gelojotan. Kekaguman? Bukan hnya itu, walau telah merebakan begitu banyak kebaruan yang semestinya sudah tak boleh dibatahkan. Kebaruan itu menjadi hidup dan menghidupkan sebuah daya, daya yang sungguh eksplosif, mungkin bagai keperkasaan Krakatau pada jaman purba dulu. Terpana? Bukan juga, walau dalam dirinya begitu banyak energi yang bersinergi tentang pandangan masa depan peran-peran subyek dan sosial yang nyaris tanpa batas horizon.
Mayana lemas, bukan lemah. Malah perkasa.
Dalam keterperangahn itu pun, rasa dalam diri Mayana tiba-tiba membenih berkecambah. Setiap yang hidup adalah dihidupkan oleh yang Mahahidup. Apakah rasa itu juga? Mayana tak peduli, ini sikap yang mulai mewarnainya. Padahal sejak kecil dia diajarkan untuk selalu menghitamputihkannya, maka mengambil peduli adalah sikap yang membatukannya. Mayana telah melakukan pergeseran. Keyakinan pada eksistensi peran dirinya yang jauh lebih luas dari sekadar batas keluarga meleleh
Mayana mendefinisikan kembali yang selama ini telah menjadi titah wasiat, Dilakukannya bukan untuk peruntuhan, tetapi dialektika reinterpretasi sebagai keagungan manusia yang dianugerahkan budi dan daya yang difasilitasi teknologi. Pergeseran demi pergeseran merubah derajat persinggungan. Dan telah dianggap sebagai pemberontakan. Ketertekanan itu kita membakar energi terbarukan dalam diri Mayana. Dia meledak, tiga hari menjelang pernikahannya dia menyatakan batal.
Mayana menyata, bukan melawan. Malah menawan.
Siapakah subyek yang berkonektifitas dengan Mayana, yang telah membuat dirinya bergeser dan terus bergeser? Mantra seperti apakah yang telah disampaikannya, sehingga rasa yang terdalam itu telah berhasil di keluarkan dan memberi kebaruan yang aktual dalam keberdayagunaan dengan daya elastisitas yang begitu melenting? Mayana begitu mencair, seperti air yang mengisi setiap pori dan lerung terdalam. Walau dia tetap punya permukaan yang akan selalu datar di segala media dan kondisi.
Berhasilkah Mayana merealiasikan subyek dunia mayanya? Apakah realita maya juga adalah realita rasa di dalam diri seseorang? Atau realita maya memang dimensi sendiri yang bukan realita rasa?
MAYASMARA
ISBN 978-602-98187-1-0
Rp 35rb (jawa) R...p 40rb (luar jawa)
telah hadir di agen/toko buku terdekat &togamas tertentu.
bisa dibeli online. Silakan tulis nama/alamat/jumlah/judul buku yang dipesan ke inbox fb hasfapublisher atau sms 081228310203/081914032201
Langganan:
Postingan (Atom)


