Rabu, 12 September 2012

Even Foto Komen

Ikuti event foto komen 
novel lelaki :kutunggu lelakumu
atau novel segitiga :setiap sudutnya punya cerita
atau buku petitah.
Caranya : upload posemu beserta buku, atau foto bukunya,sertakan komenmu. Tag teman teman dan hasfa publisher.
Bagi yang upload di blog, beritahukan linknya ke inbox fb atau email hasfapublishing@yahoo.com.
Bagi yang upload di twitter, mention @hasfapublishing.
Deadline sesi ke 2 foto komen :10 oktober 2012
Hadiah total senilai 1,5jt untuk 5 orang terpilih (@Paket buku senilai 300rb)
Dapatkan buku -buku  tsb di toko buku Gramedia.

Senin, 13 Agustus 2012

Resensi Buku PETITAH


Resensi Buku_Petitah
oleh An Maharani Bluepen*

Judul               : PETITAH: Perjalanan Menuju Awal
Jenis buku       : Religi
Penulis            : Agus Faizal
Penerbit           : Hasfa Publishing
Tahun              : 2012

Dalam setahun, Alloh Menyisipkan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh cinta dan kebaikan. Pesonanya tak akan pernah pudar bagi orang-orang beriman. Bahkan, semangat Ramadhan senantiasa terpatri dalam sebelas bulan berikutnya. Perjalanan mengisi Ramadhan dengan penuh kecintaan merupakan salah satu kunci untuk meraih ketakwaan di hadapan-Nya.

Petitah sebagai hantaran baru dari Agus Faizal, memberikan deskripsi perjalanan cinta di bulan suci. Dengan aneka majas dan tata bahasa campuran, penulis mampu mengajak emosional pembaca serta mengobservasi fenomena Ramadhan yang sering terjadi. Di balik deretan kisah tiga puluh hari meraih cinta-Nya, terdapat sisi hikmah yang manis. Ada sisi renungan, atau sedikit guyonan segar yang disajikan penulis. Tak hanya itu, setiap cerita memiliki buah harapan dan doa yang menyalurkan energi semangat tanpa jeda. Sudut mengenai perbedaan persepsi dikemas dengan bahasa lugas meski tak beraturan.

Buku ini juga mengisyaratkan bahwa Ramadhan bukanlah terminal akhir dalam menuju ketakwaan melainkan perjalanan awal untuk membentuk pribadi hasil metamorfosis Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah pemahaman pada seluruh bagian jiwa raga kehidupan, personal, dan sosial di ruang dan waktu. Semakin merayapinya, semakin menjadi sebuah inspirasi. Di sini, kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan tak mudah terlepas meski Ramadhan telah berakhir.

Dari mana seorang insan bisa memulai perjalanan meraih cinta-Nya? Alangkah baiknya jika Anda sendiri memahami buku ini sampai tuntas. Buku yang berisi tak sekedar prosa picisan melainkan catatan kecil yang bisa menjadi inspirasi tiap orang untuk menghargai waktu Ramadhan. Buku petitah hadir di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya. Untuk pemesanan, bisa hubungi penerbit langsung di: 081914032201. Ok. Semangat membaca buku tanpa henti :D

"Waktu tak pernah siuman,kecuali disadarkan adalah kenisbian yang mengada..."
-Hantaran # 3 Petitah-


Sabtu, 11 Agustus 2012

Three Musketers


THREE MUSKETERS
By Fidianna


Tiga tahun ini kami bertiga melalui hari-hari tanpa suami dan ayah.
Berat? Tidak juga sebenarnya. Mungkin sebenarnya berat tapi aku dan anak-anakku melaluinya dengan hati lapang. Mereka berdua, Hasan dan Fatimah yang berusia enam dan empat tahun can entertain themselves, sama mudahnya dengan diriku. Hidup dibawa enjoy dan have fun.
Kantor konsultan arsitek dan kontraktor yang dulu kurintis dengan almarhum suami terpaksa kutinggalkan karena aku dan kedua anakku ditarik pulang ke rumah ibu. Sejak itulah perjalanan terasa agak berat. Tinggal di kota kecil, tidak memungkinkan karir arsitekku berkembang.
Dua tahun pertama aku memaksakan diri untuk tetap berkutat di bidangku, membuka lahan property baru di Semarang bersama kawan dan tim. Waktuku tersita banyak di perjalanan dan juga pekerjaan. Kadang –kadang jika sedang tidak punya pembantu, aku terpaksa menitipkan mereka ke rumah bulikku, karena ibuku sendiri juga masih aktif bekerja sebagai PNS. Beliau berangkat pagi-pagi sekali sekitar jam enam dan pulang jam enam sore karena kantornya berada di luar kota.
Kasihan sekali anak-anakku. Bahkan waktu kami masih tinggal di Semarang, kami bertiga seperti three musketeers karena selalu bepergian bertiga sejak ayah mereka wafat dalam kecelakaan lalu lintas.  Tapi sejak tinggal di Demak dan aku harus nglajo kerja ke Semarang, tak pernah lagi kami punya waktu jalan-jalan. Lama kelamaan, aku berpikir jika aku terus memaksa untuk nglajo ke Semarang, kasihan anak-anakku yang hanya mendapatiku pulang dalam keadaan letih dan karenanya mudah marah.
Akhirnya kuputuskan resign dan mengisi kekosongan waktu dengan menulis. Hobi lamaku yang tumbuh kembali dan akhirnya malah merajai hari-hariku.
Mencintai buku sejak masih balita-sebab ayahku selalu membawakan banyak buku dan bacaan ke rumah- ternyata tak pernah pupus. Menulis diary seperti yang diajarkan ayahku sejak aku duduk di kelas 1 SD- ternyata menjadi ajang pembelajaranku untuk menulis hal-hal lainnya di kemudian hari. Bakat menulisku ini ditemukan pertamakalinya oleh guru bahasaku di SD, beliau mendorongku untuk mengikuti berbagai lomba resensi dan lomba menulis. Guru Bahasaku di SMP dan SMA juga demikian.  Hanya saja karena salah kaprah pada masa itu, hanya perkuliahan eksakta saja yang dianggap keren, kemudian aku memilih teknik arsitektur sebagai pilihan studiku. Yang aneh tapi nyata, aku kadang membawa sekeranjang buku-buku bacaanku (diluar bacaan arsitektur) ke kampus seperti perpustakaan keliling. Aku juga gemar sekali datang ke pameran dan bazaar buku serta menghabiskan banyak rupiah di sana.
Dan ternyata  takdir berbicara, Pertama kali memenangkan lomba menulis pada event ulang tahun sebuah penerbit. Buku Titik Balik yang keren dan inspiratif menempatkanku di peringkat dua. Menang lagi saat menulis slogan untuk imprint penerbit bagi pembaca kalangan remaja. Ketika menang kembali untuk audisi penulis Crazmo, adik laki-lakiku menantangku.
“Ayo,mbak. Ikut lomba lagi. Yang ketiga menang lagi supaya bisa triple”, selorohnya dengan tertawa khasnya. Seperti tertantang, aku jadi semakin tak pernah melewatkan event dan lomba.
Dan Alhamdulillah, buku Setan 911 bahkan menempatkan namaku di cover depannya. Adik iparku kini yang berseloroh, “DianNafi siapa tuh? Arsitek nyasar ke sastra”. Begitulah. Dan aku menerimanya dengan senang hati. Apalagi kemudian kuketahui melalui facebook, ada beberapa arsitek juga yang suka menulis note, cerpen dan juga puisi. Aku tidak sendirian.
Beberapa kali memenangkan lomba menulis, tak terasa aku sudah memiliki 17 buku antologi. Alhamdulillah wa syukurillah. Sebuah pencapaian-bahkan bukan di bidangku sesungguhnya- yang sangat mengejutkan bagiku dan teman serta saudaraku.
Menulis ternyata tak hanya menjadi sarana exhausting atau pelepasan karena  mengeluarkan rasa, duka dan juga luka. Namun juga membangkitkan energi positif yang tidak hanya membangun dan mengembangkan diri, namun juga menginpirasi orang lain bahkan banyak orang.
Ketika kemudian aku mendapat karuniaNya dengan sebuah kesempatan menulis novel dengan seorang sahabat maya, sebuah cita-cita lama kembali muncul. Semenjak SMP sampai dengan lulus kuliah, aku selalu ingin punya toko buku. Sederhana saja alasannya,  karena dengan memiliki toko buku, aku bisa membaca buku dengan gratis. Cita-citaku ini belakangan bergeser dari sekedar ingin memiliki toko buku menjadi ingin mewujud sebagai penerbit. Utamanya adalah menerbitkan karya-karya sendiri. Jika kemudian, ada banyak karya penulis lain yang kami terbitkan, itu semata-mata anugerah dan karuniaNya.
            Aku mengerjakan semuanya dari rumah  sambil bermain bersama anak-anakku. Hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Meski kemudian dengan beban baru ini aku menjadi semakin sibuk, tetapi aku lega karena masih bisa berkarya tanpa harus jauh meninggalkan rumah. Mereka juga semakin faham jika aku harus berbagi waktu dan perhatian agar tugas menjadi ibu dan juga ‘ayah’ yang mencari nafkah ini harus berjalan seimbang. Bahkan mereka juga membuat buku mereka sendiri karena mungkin terinspirasi dari aktifitas yang aku lakukan setengah tahun belakangan ini.
Si sulung membuat gambar-gambar komik dalam buku tulis kosong yang disertai dialog dan cerita serta narasi singkat. Dan si bungsu juga membuat gambar sederhana dengan tulisan huruf-huruf yang ia tahu meski kadang tak terbaca. Terkadang ia meminta tolong aku atau kakaknya untuk menuliskan kalimat-kalimat yang ia diktekan. Genitnya, kadang-kadang si bungsu menggodaku,
“Mau ditandatangani mbak bukunya?”, tanyanya sambil berpura-pura hendak menandatangani bukunya seolah-olah dia seorang penulis ternama yang bertemu penggemarnya. Alamaaaak…anakkuuuu…..

            Bagian terbaiknya adalah  three musketeers ini kembali beraksi karena memiliki lebih banyak waktu untuk bersama –sama. We’re happy and that’s more than everything we need. 

Tentang Asma Nadia


SHE’S MORE THAN I TOUGH

Menyelesaikan sebuah novel ternyata bukan hal yang mudah. Aku hampir saja menyerah.  Ramadlan sudah memasuki sepuluh hari terakhir dan aku masih termangu –mangu tidak tahu bagaimana kelanjutan novelku.
Tiba-tiba aku bagai terseret pusaran menakutkan.
“Aku memang bukan penulis!”, teriakku di kedalaman hati, tapi masih dengan serpihan ragu. Hatiku memanggil, ini jalanku. Pikiranku yang lain membisikkan ‘kamu kan arsitek, please deh’.
Oh , okey. Mungkin aku memang harus istirahat untuk menenangkan kalut batinku yang bergejolak dan berperang. Tapi aku tetap aku, yang penasaran jika belum segera menyelesaikan sesuatu yang sudah kumulai. Membuka rak buku dengan maksud mencari inspirasi di antara deadlock yang menyesakkan dada, aku menemukan tulisan Asma Nadia di kumpulan cerpennya terbitan Mizan 2001. Wow! Subhanallah. Kok bisa pas banget? Novelku berkisah tentang kisah cinta di dunia maya dan kumcer Asma Nadia ini berjudul Dialog Dua Layar.
Bermula dari membaca cerpen itulah aku kemudian sadar, ternyata ‘she’s more than I tough’. Dia lebih dari yang kusangka. Kisah persahabatan maya antara Widya muslimah taat dan Mark yang atheis dalam cerita itu, menyiratkan semangat toleransi penulisnya yang tinggi. Meskipun pada awalnya kupikir Asma Nadia berada dalam atau bersama kalangan islam inklusif, ternyata dia berpikiran lebih luas, tidak menyekat dirinya, terbuka dan toleran. Tokoh Widya yang akhirnya bersuami, dan tetap menjalin persahabatan dengan Mark, membuka mataku bahwa tidak ada yang salah dalam persahabatan. Karena aku yang mengaku toleran saja, seringkali menganggap pertemanan terlalu dekat dengan lawan jenis  harus dihindari karena mengkhawatirkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Meski  niat awalku mencari inspirasi bagi kelanjutan novelku belum kuperoleh langsung begitu saja setelah membaca kumcer itu, tapi kurasakan serapan energi dan serangkaian motivasi inspirasi dalam langkah kehidupanku. Aku jadi lebih sering melirik Asma Nadia, meski sudah lama menjadi fans page-nya dan juga ada di friendlist nya.
She’s more than I tough.  Tidak saja mengobarkan apiku untuk melanjutkan penaku menari-nari, tetapi juga menyiramkan bensin bagi mimpiku yang baru.  Self publishing.  Asma Nadia Publishing House yang dikembangkannya sendiri menjadi inspirasi bagiku untuk akhirnya mantap mewujudkan mimpi yang lama terpendam. Kecintaanku pada buku dan keterpaksaan dalam jepitan ekonomi yang mengharuskanku bergerak maju.
Leutika-lah sebenarnya yang menemukan (kembali) bakatku   dalam menulis. Karena itu, pada mulanya aku ragu untuk  menerbitkan sendiri meskipun aku sudah memimpikannya sejak lama. Tapi aku belajar dari Asma Nadia, dia merintis ANPH (Asma Nadia Publishing House) setelah lama bergabung dengan Lingkar Pena Publishing House (yang kini dipegang Helvy Tiana Rosa-kakaknya yang juga penulis). Aku membacanya seperti ini,  merintis usaha sendiri bukanlah pengkhianatan. Ini adalah eskalasi, pengembangan.Pernah dengar ini kan? Orang sukses adalah yang melahirkan dan membantu kelahiran orang-orang sukses baru.
            She’s more than I tough. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana, kakak beradik penulis ini kini juga telah melahirkan keluarga penulis. Subhanallah. Kiprahnya bahkan lintas negara, memantapkan langkahku untuk melakukan lompatan ini. Menyediakan waktuku lebih banyak untuk menulis dan menerbitkan buku dibanding aktifitasku sebelumnya sebagai arsitek.
Aneh kan? Iya, pada mulanya aku ragu juga. Namun cinta..cinta..apa saja untuk cinta. Aku mencintai dunia baru ini. Semoga berkah, aamiin.
                                                                        ***
            “Jadi gimana Fin?”, tanya partner menulisku. Aku sedang di Gramedia, dan dia di seberang telpon memberikanku beberapa referensi buku untuk kubaca.
“Hmm…gimana ya? Aku lebih suka Negeri 5 Menara dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan”, aku menimbang – nimbang dan akhirnya mengambil pilihan.
“Kamu sukanya baca yang gitu-gitu sih…”, suaranya kelihatan tidak suka.
Dia lebih suka aku baca bacaan yang ‘menyerempet bahaya’, dia bilang bagus karena alurnya tidak linier meskipun aku melihatnya sebagai bacaan yang bisa merusak otak dan kepribadian.
Aku jadi teringat Asma Nadia. Dia memang sosok yang patut dicontoh. Dia tidak hanya menulis tetapi juga berdakwah. Dan istiqomah. Satu hal yang tidak mudah karena ada banyak bujukan dan pengaruh di luar sana yang bisa menggerus kekokohan diri. Seringkali keinginan bisa bebas dan bisa diterima semua kalangan akhirnya menjadikan diri permisif dan kurang filter. Dan Asma Nadia menunjukkan jati dirinya dengan ‘gentle’ dan anggun. Dan dia tetap eksis bahkan semakin berkibar.
“Kamu serap cara penulisannya saja yang tidak linier, Fin”, partner menulisku sepertinya membaca pikiranku.
“Kalau sudah mahir, kamu bisa menulis apa saja. Dengan misi-misi dakwah juga, tetapi dengan cara penulisan yang memukau dan tidak biasa. Sehingga ada sesuatu yang bisa ditawarkan lebih dari penulis lainnya”, sambungnya.
Hmmm…boleh juga idenya.
Anyway, kapan-kapan aku akan mencari tulisan Asma Nadia yang tidak linier dan mau kutunjukkan ke partner menulisku, nih lihat, penulis muslimah juga bisa dengan muatan yang tetap terjamin mutunya. Aku yakin dia punya.
Karena she’s more than I tough. Tidak hanya seorang penulis, Asma Nadia telah menginspirasi banyak orang dengan tulisan dan kiprahnya. Beberapa bukunya bahkan sudah disadur ke dalam film layar lebar. Prestasi yang luar biasa dan semakin membuatku membara dalam dunia kepenulisan dan penerbitan. 

Selasa, 26 April 2011

Tiga Biru Segi


Puisi sejak riwayatnya yang paling usang adalah dunia tersingkir, dunia tercibir.
Demikian Damhuri Muhammad dalam pengantar buku Luka Mata, buku sajak Hasan Aspahani.
Puisi pula yang telah menjadi medium terluar ketika kedahsyatan menerpa seseorang.
Demikianlah pula ketika bencana alam di tiga sudut bumi nusantara menuliskan puisinya.
Dan mereka, para penulis yang mengirimkan puisinya, telah menuliskannya kembali menjadi untuk, apa yang disebut Dahari sebagai "menghembuskan gairah epistemologi". Jika kini puisi-puisi ini menjadi buku yang terbaca, itu karena puisi telah menjadi kasih karena bencana tak boleh hanya lara sendiri.

Sebagai antologi, keberagaman menjadi dimensi yang menguatkan buku ini yang didedikasikan sepenuhnya untuk bencana yang tak hanya sampai pada simpati. Tetapi ingin menjadi saksi, bahwa puisi menjadi kasih yang nyata dalam kata dan tindakan.


buku "TigaBiruSegi"
Antologi Puisi Kasih – Tanah,Air, Udara
ISBN 978-602-98386-0-2
harga : Rp 30.000, tebal 116 hal, HVS 70 gr, ukuran 13,5x20 cm.

Insya Allah, seluruh profit penjualan buku TBS disumbangkan bagi korban bencana alam.

kencantren


“Buku ini merekam kisah-kisah unik romantika cinta dari bilik pesantren, dengan segenap liku-likunya yang khas dan menggelitik. Sangat menarik untuk dibaca!”
~Badiatul Muchlisin Asti
Penulis buku best seller Saat Kuncup Cinta Mekar di Hati

“Buku ini sangat bermanfaat untuk bahan pertimbangan bagi mereka yang akan membangun mahligai rumahtangga yang indah dan sakinah. Juga bagi mereka yang sedang mencari calon pasangan yang sholih(ah) dan terhormat serta terjaga ”
KH. Drs. Dzikron Abdullah
Dosen,Kyai, Ketua Thoriqoh Mu’tabaroh Jawa Tengah


“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kedudukannya/ keturunannya, karena kecantikannya dan keranan agamanya. Maka, pilihlah yang baik agamanya niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhori). Dan orang ketiga dibutuhkan agar jangan sampai salah dalam memilih calon pasangan. Kisah-kisah nyata yang diceritakan kembali ini semoga menjadi inspirasi bagi mereka yang mendambakan pasangan sholih
KH. Drs. Ahmad Baidlowi
Kyai ,Pengasuh Pesantren, Dai.

“Buku tersebut ringan dengan bahasa yang renyah tapi berbobot dan yang terpenting isinya menggambarkan keadaan pesantren – pesantren di Jawa,menggelitik tapi tetap menghormati pesantren.”
Ust. Ahmad Rifai .
Pendidik, Dai, Kepala Sekolah SMA di Jakarta.

“ Kisah-kisah nyata yang diceritakan kembali ini semoga menjadi inspirasi dan pencerahan bagi mereka yang mendambakan pasangan sholih/sholihah. Dan membuka pandangan banyak orang mengenai cara – cara yang dianggap kuno namun pada kenyataannya mengandung hikmah yang dalam”

KENCANTREN
Pondok Comblang
ISBN : 978-602-98187-0-3
20cm
86 halaman

Mayasmara


SINOPSIS

Masyasmara, membuktikan bahwa realita hari ini adalah realita media, dan itu jagat maya yang eksistensinya tanpa batas primodial serta menerabas dimensi ruang dan waktu. Batas menjadi nisbi, persepsi menjadi imaji-realiti. Sementara rasa akankah mendapat ruang eksistensinya juga? Padahal rasa itu selama ini telah mendapat posisi yang begitu nyaman dan berkembang sebagai esensi terdalam seseorang.



Adalah Mayana Astari, putri sulung dari tiga bersaudara yang perempuan semua, dari keluarga yang merasa posisi sosialnya sebagai keluarga terhormat. Mayana gadis penurut yang tumbuh dalam kepatuhan kultur Timur yang telah dididik dan bergaul dalam kancah global. Maka Timur dan Barat, Utara dan Selatan menjadi samar eksistensi dan perannya. Sebagai penerus keluarga, entah dia sadar atau tidak, telah menjadi begitu patuh pada hampir semua ketentuan keluarga, sebagai institusi yang agung dan luhur, maka inginnya dipuja-puja sepanjang masa oleh setiap generasinya. Ketetapan keluarga telah menjadi sabda yang tak boleh disanggah. Ketika menjadi dewasa, Mayana pun ditentukan jodohnya oleh keluarga. Tak ada energi berontak sedikitpun. Seolah semua memang begitu adanya. Pematakudaan seluruh pandangan dan aspirasinya, selama ini telah terjadi di keluarga itu berabad silam. Demikian cerita para tetua keluarga, telah diinsulinkan ke dalam benak bawah sadar Mayana.



Ketika menghitung hari menuju pernikahannya, Mayana tersangkut pada pergaulan media sosialita dunia maya, yang sekian bulan ini menjadi bagian kehidupan pribadi dan sosialnya. Subyek yang selama ini berkonektiifitas itu telah memercikan sesuatu yang membuatnya terperangah. Keterperangah itu telah menyengat seluruh eksistensi kemanusia, dan memberi wacana baru yang membuat dirinya gelojotan. Kekaguman? Bukan hnya itu, walau telah merebakan begitu banyak kebaruan yang semestinya sudah tak boleh dibatahkan. Kebaruan itu menjadi hidup dan menghidupkan sebuah daya, daya yang sungguh eksplosif, mungkin bagai keperkasaan Krakatau pada jaman purba dulu. Terpana? Bukan juga, walau dalam dirinya begitu banyak energi yang bersinergi tentang pandangan masa depan peran-peran subyek dan sosial yang nyaris tanpa batas horizon.



Mayana lemas, bukan lemah. Malah perkasa.



Dalam keterperangahn itu pun, rasa dalam diri Mayana tiba-tiba membenih berkecambah. Setiap yang hidup adalah dihidupkan oleh yang Mahahidup. Apakah rasa itu juga? Mayana tak peduli, ini sikap yang mulai mewarnainya. Padahal sejak kecil dia diajarkan untuk selalu menghitamputihkannya, maka mengambil peduli adalah sikap yang membatukannya. Mayana telah melakukan pergeseran. Keyakinan pada eksistensi peran dirinya yang jauh lebih luas dari sekadar batas keluarga meleleh



Mayana mendefinisikan kembali yang selama ini telah menjadi titah wasiat, Dilakukannya bukan untuk peruntuhan, tetapi dialektika reinterpretasi sebagai keagungan manusia yang dianugerahkan budi dan daya yang difasilitasi teknologi. Pergeseran demi pergeseran merubah derajat persinggungan. Dan telah dianggap sebagai pemberontakan. Ketertekanan itu kita membakar energi terbarukan dalam diri Mayana. Dia meledak, tiga hari menjelang pernikahannya dia menyatakan batal.



Mayana menyata, bukan melawan. Malah menawan.



Siapakah subyek yang berkonektifitas dengan Mayana, yang telah membuat dirinya bergeser dan terus bergeser? Mantra seperti apakah yang telah disampaikannya, sehingga rasa yang terdalam itu telah berhasil di keluarkan dan memberi kebaruan yang aktual dalam keberdayagunaan dengan daya elastisitas yang begitu melenting? Mayana begitu mencair, seperti air yang mengisi setiap pori dan lerung terdalam. Walau dia tetap punya permukaan yang akan selalu datar di segala media dan kondisi.



Berhasilkah Mayana merealiasikan subyek dunia mayanya? Apakah realita maya juga adalah realita rasa di dalam diri seseorang? Atau realita maya memang dimensi sendiri yang bukan realita rasa?

MAYASMARA
ISBN 978-602-98187-1-0
Rp 35rb (jawa) R...p 40rb (luar jawa)
telah hadir di agen/toko buku terdekat &togamas tertentu.
bisa dibeli online. Silakan tulis nama/alamat/jumlah/judul buku yang dipesan ke inbox fb hasfapublisher atau sms 081228310203/081914032201