Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2014

Celoteh tentang Perselingkuhan

Celoteh tentang Perselingkuhan

Tadi saya baca buku hadiah dari mba Dian Nafi, meski belum selesai, tapi lumayan rumit masalahnya di dalam buku tentang perselingkuhan itu. Sebagai lajang yang masih milih-milih pasangan hidup, saya agak sangsi tentang konsep keluarga bahagia. Kok ya bisa-bisanya laki-laki bisa mengiyakan ajakan perempuan yang bukan pasangan halalnya untuk gitu deh. One night stand. Glek. Padahal dituliskan bahwa tokohnya dari keluarga ningrat. 

novel mba Dian Nafi
Akhirnya saya jadi ngerti kalo sebenernya siapapun lelakinya, bisa berpotensi selingkuh. Apapun pekerjaan dia, latar belakang dia, hobi dia, dll. Sealim apapun kalo udah berhubungan dengan perempuan, laki-laki itu bisa bertekuk lutut. Udah jadi jaminan kan di Al Quran kalau memang kenapa Al Quran aja sampai menawarkan balasan bidadari bermata indah, blablabla di dalam kitab suci itu. Tentu karena memang itu yang paling disukai laki-laki. Beda lagi dengan perempuan yang memang lebih suka harta. Coba berikan pilihan pada perempuan, suruh nemenin pasangannya di rumah aja atau ke mall belanja ini itu? Pasti milih belanja :p Ya memang fitrahnya laki-laki pada perempuan, perempuan pada harta. Maka wajar jika akhirnya banyak lelaki jatuh ketika perempuannya tidak baik, dalam artian tidak bisa menahan apapun untuk bersikap biasa saja terhadap harta suaminya. Makanya sampe ada yang korupsi, ya coba tengoklah istrinya pejabat pegangannya apa aja? Kalo bukan pengusaha kok bisa sampai punya harta yang wah, padahal katanya gaji pejabat dikit ya? 

Makanya ada sebuah artikel yang saya baca di sebuah blog teman, dia bilang kalo dalam keluarganya didoktrin untuk perempuan itu yang harus jaga suaminya. Bukan suami yang jaga istri. Kenapa? Karena ketika lelakinya itu tidak baik, balik lagi liat istrinya gimana cara menjaganya. Jangan-jangan memang dijaga ala kadarnya saja. Tidak diingatkan ketika berpotensi melakukan kesalahan. Tidak dibikin bahagia selama mereka bersama. Tidak dibimbing menjadi lebih baik lagi. Tidak saling mensupport pasangan. Tidak saling mendoakan kebaikan. Ya terus buat apa bareng-bareng dong kalo ga bahagia?

Trus lagi, pernah baca juga di fb teman, kesimpulan yang saya ambil ini. Jadi tau bahwa memang cara menjaga agar suami tetap fokus pada pekerjaannya adalah dengan si istri mengerjakan segala masalahnya sendiri. Jadi wonder woman kali ya. Ntar kalo ada yang paling rumit baru ngomong. Ga setiap ada masalah diomongin, kesian suaminya kepikiran. Udah banyak pikiran di kantor ditambah diributin istrinya yang rewel dan super bawel. *eh :P 

Intinya sih, kalo perempuannya memang sudah mengambil keputusan untuk di rumah saja, maka segala urusan rumah dari yang terkecil hingga yang rumit sekali pun, dia yang menyelesaikannya. 

Kesimpulannya : bikin partner hidup itu bahagia butuh perjuangan. namanya partner berarti ada proses saling, saling membahagiakan, saling bikin ketawa, saling bikin senyumnya ceria. xD jadi ya, nak. yang masih single, coba belajar seni memahami pasangan. Hahaha. Padahal ini kelemahan saya :P ya masih ada waktu buat belajar kan, bisa dari cerita teman, buku, diskusi, dll. Sebelum akhirnya nanti saya menemukan pasangan halal saya. :P

Udah gitu aja ocehannya :)) Lagi pengen cerita aja xD
 

Senin, 16 Juni 2014

Ngemilbaca lovelocked by pia devina



Ngemilbaca lovelocked by pia devina
Aku membaca marathon dua novel romance travelling secara bersamaan. Salah satunya adalah karya pia yang keempat bertajuk love locked. Terus terang ada kejenuhan dalam diriku untuk terus-terusan membaca novel yang kesannya menye-menye, dangkal,swallow, seolah cinta-cintaan an sich. Bukan jenis novel yang ingin kubaca ataupun kutulis. Meski tulisanku juga mungkin tak lebih bagus. Tapi begitulah kali ini aku tersadar, bahwa kadang-kadang karena kita tidak ingin karya kita dibilang uopppoooh ikiii? Jadi kita juga menghindari untuk komen uopppooh ikkkiii pada karya orang lain. Padahal dengan begitu, akhirnya kita kehilangan sedikit kejujuran dan titik atau sisi kritis kita.
Jadi, meski sekilas-sekilas aku menulis di statusku, tanpa mention.  Membaca menye-menye sekali mungkin tak apa, tapi kalau all week along? Juga unek-unekku yang lain, all these non-senses, mau ke mana arahnya? Mudhof ilaih alias obyeknya tentu saja bukan Cuma novel ini, tapi juga novel-novel lainnya, bahkan juga novel dan tulisanku sendiri. Sesaat aku sadar mengapa beberap orang tua dulu bilang bahwa buku cerita, fiksi itu bullshit, omong kosong, karenanya loghow, ia juga sebuah bentuk kebohongan, tipu-tipu karena tidak sesungguhnya ada. That’s probably right, maybe.
But terus apa sebenarnya manfaat fiksi, kalau ia sepenuhnya imajinasi? Tidak berdasarkan true story atau kebenaran realita. Kalau ia fiksi fantasi, boleh jadi malah merupakan penggambaran visual tentang masa depan yang lebih baik, atau sebuah perngatan tentang masa depan yang buruk kalau kita tidak bijaksana di masa sekarang. Ia mendorong terciptanya penemuan-penemuan.
Kalau ia fiksi sejarah, berarti menceritakan sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan, berkisah.
Kalau ia fiksi travelling, berratrti menyajikan tempat-tempat destiunasi dengan cara yang lebih menarik, berkisah.
Tentulah begitu, mungkin.
Dan di balik semua itu, ada hikmah tersajikan secara perlahan. Seperti yang akhirnya kudapati di bagian akhir novel pia ini. Ternyata segala kesalahan di masa lalu yang menyakitkan dua generasi itu toh tetap harus disyukuri. Karena akhirnya melahirkan rhinea dan membawa Erika menyayangi Mario. Menjadikan mereka bertemu dan saling jatuh cinta.

Satu yang kugarisbawahi dari novel ini, karena punya relevansi erat dengan situasiku, ternyata orang tua tiripun ada yang baik. Jadi kepikiran utk mencari seorang ayah bagi anak-anakku. Hahay :D