Senin, 26 Januari 2015

Bersepeda Dan Berjamaah Ke Masjid

ibadah bareng si kecil
bersepeda dan berjamaah ke masjid
by dian nafi

susahnya mengajak anak-anak untuk sholat lima waktu. Ada saja alasannya. Yang capek lah, nanggung lah sedang ada acara TV yang bagus, nanti lah daaan beerbagai macam alasan lainnya. Sudah berbagai  macam cara kucoba. Dari yang halus dan lembut macam bujukan, sampai yang keras seperti bentakan, ancaman dan kadang kemarahan. Astaghfirullah.

Lalu, tiba-tiba kami  seperti menemukan jalan keluarnya. Ketika pada akhirnya tengah tahun kami resmi pindah ke rumah baru setelah sejak beberapa bulan lalu maju mundur waktu pindahannya karena ada Ramadhan-an, ada lebaran, ada sepupu manten-an dan sebagainya. Rumah baru ini kebetulan sekali dekat dengan masjid. Sekitar 200 meter-an. Tempat tinggal kami yang terdahulu  sebenarnya juga dekat dengan masjid, tapi kami toh  jarang pergi sholat berjamaah ke sana. Karena ya itu tadi, banyak alasannya.

Dus, aku sengaja membelikan dua sepeda baru untuk kedua anakku yang usianya cuma selisih satu setengah tahun ini. Mereka memang sudah mengidam-idamkan sepeda ini sejak lama. Tapi ini waktu yang tepat, kurasa.

Aku bilang pada mereka, "sepeda ini Umi belikan untuk mas Asan dan dik  Atim pakai buat pergi berjamaah ke masjid ya."
"Oh, masjid Al Huda itu ya, Mi?" tanya anakku yang paling kecil, Atim. Dia masih 1,5 tahun waktu ayahnya meninggal dunia, dan tak terasa sekarang sudah 8 tahun usianya.
"Asyik...berarti aku kalau pergi Jumatan ke Al Huda tidak perlu diantar Umi lagi, tapi bisa naik sepeda sendiri,"  cetus Asan. Wajahnya terus tersenyum, bungah.
"Tidak JUmatan saja, setiap waktu sholat kalau memungkinkan kita jamaah di Masjid," sahutku.
"Kalau pas di sekolah, Mi?" Atim menyahut.
"Ya jamaah dengan teman-teman di masjid dekat sekolah kan," jelasku.
"Berarti Subuh,  Maghrib dan Isya' sepedaan ke masjid Al Huda..Yeaayyy..." seru Asan.
"Asyiiiiik...." Atim turut girang dan jejingkrakan. Aku pun tersenyum melihat antusiasme mereka.
"Wah! Tapi Umi gimana dong? Kalau kami sepedaan ke masjid, mosok Umi jalan kaki?" cetus Asan tiba-tiba.
"Hmmm...nggak apa-apa. Kalau pas Umi capek, Umi bisa naik motor ke masjidnya," usulku.
Mereka pun tersenyum lagi.
**
Jadilah hari berikutnya, saat subuh-subuh dan jalanan masih belum terang, kami beriringan pergi ke masjid. Mereka dengan semangat mengayuh sepedanya, dan aku mengikuti dari belakang dengan bermotor. Indahnya melihat pemandangan ini. Sholat tidak saja tidak harus pakai dioyak-oyak alias diperintah-perintah tapi kesadaran sendiri, berjamaah lagi. Kami merasakan kesejukan pagi itu luar dalam, sejuk udara dan hawanya, sejuk pendengaran menikmati lantunan ayat suci imam masjid dan seruan amin para makmum, juga sejuk di hati.
Pengalaman sholat berjamaah yang menyenangkan itu berlanjut saat maghrib. Kali ini mereka makin antusias. Karena diam-diam saat mereka pergi ke sekolah, siang hari itu aku membeli satu lagi sepeda baru untuk diriku sendiri. 
"Asyiiiik.....Umi juga sepedaan dengan kita," seru Asan dan Atim bersahutan,"tambah seru deh."
Kami pun berusaha selalu bergegas mengambil wudlu jika terdengar suara adzan. Dan bergegas mengayuh sepeda ke masjid. Keseruan dan keasyikan bersama kami ini rupanya menarik perhatian para tetangga. Mereka mulai satu persatu mengikuti kebiasaan kami, bersama keluarga bersepeda ke masjid untuk sholat berjamaah. Alhamdulillah.

Senin, 04 Agustus 2014

#NgemilBaca The Ocean At The end Of The Lane - Neil Gaiman

Judul : The Ocean At The end Of The Lane
Penulis : Neil Gaiman

1st impression

Jelas sekali Neil Gaiman adalah seorang  pencerita ulung. Saya bahkan tidak melewatkan sedikitpun kata dari buku ini. Tidak ada skip-skip-an seperti biasanya kalau pas kita baca novel klise, menye-menye dst.
Bener-bener compelling story, dari plotnya, karakter, setting sampai dialog-dialognya.


Experience with the book

Dan seperti yang tertulis di back cover, novel ini betul banget kalau dibilang puitis, semurni mimpi dan segetas sayap kupu-kupu. Wow, ajib banget.

Character 

Sepanjang perjalanan saya membaca buku ini, saya mendapatkan beberapa insight dan menghubung-hubungkannya dengan beberapa hal.
Seperti, Ursula Monkton itu mengingatkan saya pada wewe gombel, hantu yang ada menurut kepercayaan  orang-orang jawa.
Banyak hal unreal, ghaib yang digambarkan di novel ini seperti juga yang biasa diceritakan dalam buku-buku alam ghaib baik berbentuk primbon, novel ataupun komik di Indonesia, dalam hal ini Jawa.
Jadi kalau dipikir-pikir si Neil ini juga sudah mukasyafah ya? hehe. artinya dia dibukakan tabir rahasia yang ada di belakang material yang tampak mata ini.


Plot

Maju mundur

POV
Orang pertama

bersambung

Senin, 30 Juni 2014

Eat Play Leave

menyenangkan sekali membaca tulisan Jenny Jusuf ini
Yang pertama, karena jadi mengobati kekangenanku pada Ubud yang eksotis dan manis.
Yang kedua, karena gaya bahasanya spontan, segar, lucu dan ada bagian-bagian kontemplatif inspiratifnya tanpa kesan menggurui.
Proficiat, Jenny!

Untuk lebih lengkapnya, baca sendiri ya :)
ada cinta, main-main dan mereka yang pergi setelah singgah atau tinggal di Ubud.
Duh, jadi pengen ke Ubud lagi...
tapi seperti yang Jeny kutipkan dari orang-orang tua sana, bukan kamu yang memilih Ubud, tetapi Ubud yang memilihmu :))

Jumat, 27 Juni 2014

101 young ceo

ini buku keren  banget.
tahu nggak, aku jadi kepikiran menulis cerpen terinspirasi dari buku ini. bayangkan aku akan dapat 101 cerpen dari 1 buku ini lho...hehehe :D

pas ibuku ikutan lihat, eh emangnya ini bisa dicontoh beneran ya? (Kesuksesannya, maksudnya)
trus yang seru, ada juga kisah anaknya jokowi lho. namanya gibran :)

baca sendiri ya. seru-seru kok dan menginspirasi :)

burung lagi

 kebetulan kubaca setelah aku baca novel eka yang covernya gambar burung merem, sebagai metafora dari isi ceritanya. eh, ini berikutnya tentang burung lagi.  burung terbang dalam kelam malam, he3.
walah, halaman testimoninya buanyaaak banget.
dan mungkin justru karena testimoni sebanyak dan sebagus itu, jadi kita ketinggian harapannya akan novel ini. hiks, jadinya pas baca malah kayak kejeglek. duh, kok.  he3.

jadi bertanya-tanya, mana sih yang paling payah dari beberapa model/jenis bacaan? apakah yang kemproh atau yang picisan atau yang menye-menye. hehehe.
trus jadi kepikiran, kayaknya kalau novel yang cerita tentang novelis jadi kayak hmmm.. gimana gitu ya? memangnya gak ada yang lain yang bisa diceritain.


sepak bola wanita

aku lagi dalam antrian di pn, karena kena tilang lalu lintas, jadi deh soul match ini kubaca habis dalam sekali berdiri dalam antrian super lama dan panjang.

temanya seksi, sepakbola wanita
settingnya rio de janeiro
janitra dan kaisar-nya nempel di hati, juga  karakter2 lain tersaji dg keunikan/karakter masing2.
flavia, bukit del aimos atau apalah itu dan laguna-nya juga puncak bukitnya tergambar secara apik.
ada beberapa memorable moments.
dan yang bikin nangis itu pas lagu indonesia raya dinyanyikan bareng.
jadi tiap lagu indonesia raya dinyanyikan bareng, aku mewek lagi. hiks.

tidak seperti seperti rindu-nya eka, yang sub plotnya banyak banget, hanya ada 1subplot, kisah kaisar dan ayahnya, di samping plot utamanya janitra dan kaisar.

apalagi ya? sementara itu, ntar kalau aku ingat, aku tambahin lagi ya :D


seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

satu kata. keren. memang eka kurniawan is an unconventional writer.
meski sekilas awal-awal pas baca novelnya, ih kok saru, ih kok jorok.
tapi memang begitu gaya yang paling tepat untuk novel ini, humor satir.
ini kecerdasan eka, membungkus kritik sosial politiknya dan ironi bangsa ini dalam sebuah cerita yang kesannya ringan.
dan yang mengejutkanku, dia ada membahas tentang jalan sunyi, tasawuf lho, sebagai pilihan rel bagi ajo kawir, karakter utamanya ini.
yang lebih mengejutkan lagi ada yang surreal di sini, ternyata si jelita itu ya si rona merah itu. hahay...

sub plotnya banyak banget, ajo, iteung, mono, dll
dan hey plot SRDHDBT itu maju mundurnya keren deh

selebihnya sila baca sendiri ya :)