Sabtu, 11 Agustus 2012

Tentang Asma Nadia


SHE’S MORE THAN I TOUGH

Menyelesaikan sebuah novel ternyata bukan hal yang mudah. Aku hampir saja menyerah.  Ramadlan sudah memasuki sepuluh hari terakhir dan aku masih termangu –mangu tidak tahu bagaimana kelanjutan novelku.
Tiba-tiba aku bagai terseret pusaran menakutkan.
“Aku memang bukan penulis!”, teriakku di kedalaman hati, tapi masih dengan serpihan ragu. Hatiku memanggil, ini jalanku. Pikiranku yang lain membisikkan ‘kamu kan arsitek, please deh’.
Oh , okey. Mungkin aku memang harus istirahat untuk menenangkan kalut batinku yang bergejolak dan berperang. Tapi aku tetap aku, yang penasaran jika belum segera menyelesaikan sesuatu yang sudah kumulai. Membuka rak buku dengan maksud mencari inspirasi di antara deadlock yang menyesakkan dada, aku menemukan tulisan Asma Nadia di kumpulan cerpennya terbitan Mizan 2001. Wow! Subhanallah. Kok bisa pas banget? Novelku berkisah tentang kisah cinta di dunia maya dan kumcer Asma Nadia ini berjudul Dialog Dua Layar.
Bermula dari membaca cerpen itulah aku kemudian sadar, ternyata ‘she’s more than I tough’. Dia lebih dari yang kusangka. Kisah persahabatan maya antara Widya muslimah taat dan Mark yang atheis dalam cerita itu, menyiratkan semangat toleransi penulisnya yang tinggi. Meskipun pada awalnya kupikir Asma Nadia berada dalam atau bersama kalangan islam inklusif, ternyata dia berpikiran lebih luas, tidak menyekat dirinya, terbuka dan toleran. Tokoh Widya yang akhirnya bersuami, dan tetap menjalin persahabatan dengan Mark, membuka mataku bahwa tidak ada yang salah dalam persahabatan. Karena aku yang mengaku toleran saja, seringkali menganggap pertemanan terlalu dekat dengan lawan jenis  harus dihindari karena mengkhawatirkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Meski  niat awalku mencari inspirasi bagi kelanjutan novelku belum kuperoleh langsung begitu saja setelah membaca kumcer itu, tapi kurasakan serapan energi dan serangkaian motivasi inspirasi dalam langkah kehidupanku. Aku jadi lebih sering melirik Asma Nadia, meski sudah lama menjadi fans page-nya dan juga ada di friendlist nya.
She’s more than I tough.  Tidak saja mengobarkan apiku untuk melanjutkan penaku menari-nari, tetapi juga menyiramkan bensin bagi mimpiku yang baru.  Self publishing.  Asma Nadia Publishing House yang dikembangkannya sendiri menjadi inspirasi bagiku untuk akhirnya mantap mewujudkan mimpi yang lama terpendam. Kecintaanku pada buku dan keterpaksaan dalam jepitan ekonomi yang mengharuskanku bergerak maju.
Leutika-lah sebenarnya yang menemukan (kembali) bakatku   dalam menulis. Karena itu, pada mulanya aku ragu untuk  menerbitkan sendiri meskipun aku sudah memimpikannya sejak lama. Tapi aku belajar dari Asma Nadia, dia merintis ANPH (Asma Nadia Publishing House) setelah lama bergabung dengan Lingkar Pena Publishing House (yang kini dipegang Helvy Tiana Rosa-kakaknya yang juga penulis). Aku membacanya seperti ini,  merintis usaha sendiri bukanlah pengkhianatan. Ini adalah eskalasi, pengembangan.Pernah dengar ini kan? Orang sukses adalah yang melahirkan dan membantu kelahiran orang-orang sukses baru.
            She’s more than I tough. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana, kakak beradik penulis ini kini juga telah melahirkan keluarga penulis. Subhanallah. Kiprahnya bahkan lintas negara, memantapkan langkahku untuk melakukan lompatan ini. Menyediakan waktuku lebih banyak untuk menulis dan menerbitkan buku dibanding aktifitasku sebelumnya sebagai arsitek.
Aneh kan? Iya, pada mulanya aku ragu juga. Namun cinta..cinta..apa saja untuk cinta. Aku mencintai dunia baru ini. Semoga berkah, aamiin.
                                                                        ***
            “Jadi gimana Fin?”, tanya partner menulisku. Aku sedang di Gramedia, dan dia di seberang telpon memberikanku beberapa referensi buku untuk kubaca.
“Hmm…gimana ya? Aku lebih suka Negeri 5 Menara dan Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan”, aku menimbang – nimbang dan akhirnya mengambil pilihan.
“Kamu sukanya baca yang gitu-gitu sih…”, suaranya kelihatan tidak suka.
Dia lebih suka aku baca bacaan yang ‘menyerempet bahaya’, dia bilang bagus karena alurnya tidak linier meskipun aku melihatnya sebagai bacaan yang bisa merusak otak dan kepribadian.
Aku jadi teringat Asma Nadia. Dia memang sosok yang patut dicontoh. Dia tidak hanya menulis tetapi juga berdakwah. Dan istiqomah. Satu hal yang tidak mudah karena ada banyak bujukan dan pengaruh di luar sana yang bisa menggerus kekokohan diri. Seringkali keinginan bisa bebas dan bisa diterima semua kalangan akhirnya menjadikan diri permisif dan kurang filter. Dan Asma Nadia menunjukkan jati dirinya dengan ‘gentle’ dan anggun. Dan dia tetap eksis bahkan semakin berkibar.
“Kamu serap cara penulisannya saja yang tidak linier, Fin”, partner menulisku sepertinya membaca pikiranku.
“Kalau sudah mahir, kamu bisa menulis apa saja. Dengan misi-misi dakwah juga, tetapi dengan cara penulisan yang memukau dan tidak biasa. Sehingga ada sesuatu yang bisa ditawarkan lebih dari penulis lainnya”, sambungnya.
Hmmm…boleh juga idenya.
Anyway, kapan-kapan aku akan mencari tulisan Asma Nadia yang tidak linier dan mau kutunjukkan ke partner menulisku, nih lihat, penulis muslimah juga bisa dengan muatan yang tetap terjamin mutunya. Aku yakin dia punya.
Karena she’s more than I tough. Tidak hanya seorang penulis, Asma Nadia telah menginspirasi banyak orang dengan tulisan dan kiprahnya. Beberapa bukunya bahkan sudah disadur ke dalam film layar lebar. Prestasi yang luar biasa dan semakin membuatku membara dalam dunia kepenulisan dan penerbitan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar